2015 in review

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2015 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Satu kereta gantung di San Francisco mengangkut 60 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 680 kali di 2015. Jika itu adalah kereta gantung, dibutuhkan sekitar 11 perjalanan untuk mengangkut orang sebanyak itu.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Iklan

Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham

Kajian Timur Tengah

Yang saya hormati, Ustadz Arifin Ilham,

Assalamualaikum ww. Perkenalkan, saya Dina Y. Sulaeman, seorang ibu rumah tangga biasa, yang senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong saya untuk kuliah lagi di program doktor Hubungan Internasional; sama sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang sempat dimuat di majalah Az-Zikra yang Antum terbitkan, Ustadz.

Hanya saja, sejak saya aktif memberikan penjelasan tentang bagaimana sebenarnya konflik Suriah, saya tiba-tiba dimusuhi oleh kelompok-kelompok radikal pro-jihad Suriah. Dan tiba-tiba saja, seorang ibu rumah tangga seperti saya mendapat ‘kehormatan’ dinobatkan jadi “Tokoh Syiah Indonesia” oleh media-media pro-jihad Suriah, yang pemiliknya adalah teman-teman Antum sendiri, Ustadz. Meskipun isi artikel berjudul Tokoh Syiah itu fitnah, tapi setidaknya tiba-tiba saja ada gelar ‘tokoh’ dilekatkan kepada saya. Siapa tahu gelar ini (meskipun ngawur), membuat saya dianggap…

Lihat pos aslinya 1.469 kata lagi

INTRO

Saya ingin mengucapkan selamat datang dan selamat membaca tulisan-tulisan di blog ini kepada siapa pun yang kebetulan lewat dan berkunjung kesini. Maaf saya tidak bisa menyajikan apa-apa selain tulisan-tulisan dari pikiran absurd ini hehehehe. Blog ini memang saya maksudkan sebagai blog pribadi yang memuat tulisan-tulisan saya sendiri yang berupa opini, artikel ilmiah, surat-surat, essai ataupun puisi dan jenis-jenis tulisan lainnya, yang telah saya tulis diwaktu terdahulu atau yang akan saya tulis dimasa mendatang.

Pertimbangan pertama kenapa akhirnya membuat blog ini adalah atas dasar keperluan dokumentasi, blog terdahulu yang pernah saya buat berakhir tragis karena tidak pernah diurus dengan berbagai macam alasan. Namun setelah menyadari bahwa banyak dokumen-dokumen yang pernah ditulis berserak dan hilang begitu saja di hardisk-hardisk PC, laptop, dan Flashdisk, saya mulai berpikir untuk merangkumnya dalam sebuah wadah, dimana tulisan-tulisan itu bisa terdokumentasi sehingga tidak hilang begitu saja, maka saya putuskan untuk membuat blog ini. Paling tidak selama wordpress dan internet masih ada, tulisan-tulisan ini akan tetap eksis.

Satu hal yang menurut saya menjadi pengalaman yang menyenangkan adalah ketika kita dapat membaca tulisan-tulisan lama yang kita buat sendiri. Dalam pengalaman pribadi, sering kali saya tidak menyangka pernah punya pikiran-pikiran seperti yang pernah dituliskan dalam artikel-artikel atau opini yang pernah dibuat. Mungkin itu karena dinamika pemikiran dan wawasan yang terus berkembang sejak artikel itu ditulis pada masanya. Bagi saya hal itu menyenangkan karena kita bisa melihat rekam jejak perkembangan pemikiran dan wawasan kita sejak dari kurun waktu kapan tulisan itu dibuat. Kadang saya bisa tertawa sendiri kenapa dulu punya pemikiran sebodoh itu ketika membaca opini-opini terdahulu yang dibuat sendiri. 😀

Dari pengalaman seperti itu saya semakin meyakini bahwa kita tidak boleh tunduk dan patuh apalagi mengkultuskan seseorang, karena manusia bisa salah, manusia pasti berubah. Bila ingin setia, setialah pada nilai-nilai, ide-ide dan gagasan yang diucapkan, bukan setia pada siapa yang mengucapkan (dalam konteks prinsip-prinsip hidup profan). Ini membuat saya teringat dengan dialog dalam film V for Vendetta soal apa yang terakhir saya tulis diatas. V yang memakai topeng Guy Fawkes itu menjelaskan pada Evey tokoh wanita pada salah satu adegan film itu kenapa ia memakai topeng. Karena ia ingin menyampaikan pesan bahwa bukan sosok manusianya yang harus dikagumi tetapi ide dan pemikirannya lah yang harus diteladani dan diwarisi;

‘Karena manusia bisa gagal. Dia bisa tertangkap, dia bisa terbunuh dan terlupakan. Tapi 400 tahun kemudian, sebuah pemikiran masih bisa mengubah dunia. Aku menyaksikan dari awal akan kedahsyatan sebuah pemikiran. Aku melihat manusia membunuh dengan mengatasnamakan pemikiran itu dan mati karena mempertahankan pemikiran tersebut. Tapi kau tak bisa mencium pemikiran, tak bisa menyentuh ataupun memegang pemikiran tersebut. Pemikiran tidak berdarah. Mereka tidak merasakan sakit.’

Sebagai contoh tentang perubahan sikap saya adalah tulisan dalam blog ini yang berjudul ‘Bagaimana Kontestan Pilgubsu Belajar dari Jokowi-Ahok’ adalah ekpresi kekaguman saya pada waktu itu akan kemunculan Joko Widodo di bursa Pikada Gubernur DKI, dengan segala tampilan permukaannya yang dicitrakan sedemikian rupa sehingga kita melihatnya sebagai antitesis dari semua tipe kepemimpinan yang ada selama ini di Indonesia, dengan jujur saya katakan pada waktu itu saya terpesona dengan Jokowi. Namun penilaian pada Jokowi berubah ketika ia memutuskan maju sebagai Presiden pada pilpres 2014.

Sebagai mahasiswa dan sedang tidak terikat dengan organisasi manapun – yang bisa mempengaruhi penilaian objektif terhadap calon-calon presiden- dengan tambahan wawasan dan keilmuan yang saya miliki, saya mencoba mempertimbangkan dan akhirnya memutuskan bahwa Jokowi memiliki lebih banyak ‘kejanggalan’ daripada pesaingnya bila maju dalam pilpres. Bagaimanapun pilpres sudah usai dan kita tahu siapa presiden Indonesia sekarang. Yang pasti saya tidak mendapatkan benefit langsung siapapun presidennya, saya juga menduga anda yang rakyat biasa tidak mendapat keuntungan apa-apa selain kebanggaan jagoannya menang di pertarungan pilpres. Jadi udah deh kita stop pembahasan tentang Jokowi ini. 0_0

Contoh diatas hanya ingin mengatakan bahwa tulisan berbentuk opini yang saya buat biasanya adalah tulisan yang dibuat spontan ketika ada fenomena baik politik, ekonomi, budaya atau sosial (seringnya sih politik) yang menarik perhatian saya dan ingin mengomentarinya. Jadi itu semacam komentar spontan tentang sebuah fenomena yang terjadi.

Jadi kepada teman-teman semua yang kebetulan sedang membaca blog ini, saya mohon maaf sebelumnya kalau ada komentar-komentar yang bodoh dan naif sampai-sampai menyinggung anda sehingga membuat anda membenci saya, sungguh saya tidak ingin dibenci, inginnya dicintai. 😉

Saya tidak bermaksud muluk-muluk dengan ingin berbagi menerbitkan tulisan-tulisan di blog ini. Apakah saya mau memberikan pencerahan kepada pembacanya? Mustahil, saya sendiri aja masih jauh dari tercerahkan hahaha. Tidak pula ingin mendapatkan apresiasi, semata-mata ini hanya bagian dari proses belajar saya dalam menulis. Dulu saya selalu mendorong orang untuk menulis, padahal saya sendiri aja masih jarang menulis, dengan adanya blog ini semoga motivasi saya untuk menulis semakin kuat.

Saya tidak bilang menulis itu mudah atau menulis itu gampang, karena saya berpendapat yang bilang menulis itu mudah dan yang bilang menulis itu susah mereka berdiri dan memandang dari perspektif yang berbeda, kedua pendapat itu benar dalam perspektif masing-masing. Saya menganalogikan seperti dua orang yang sedang ngobrol soal mendaki gunung, yang satu yang belum pernah mendaki mengatakan bahwa mendaki gunung itu melelahkan dan pekerjaan berat dan sia-sia, walaupun ia sering mendengar cerita-cerita tentang keindahan dan keseruan dari orang-orang yang turun dari gunung, sedangkan yang satu lagi yang telah turun-naik gunung dan mengalami pengalamannya sendiri tentang keindahan alam tersebut tanpa perlu berargumen panjang segera mengajak teman ngobrolnya itu untuk mendaki gunung terdekat.

Anyway saya cuma bisa berharap blog ini bisa dengan konsisten saya isi, dan kualitasnya semakin lama semakin baik. Saya akan sangat berterimakasih jika anda tidak sungkan-sungkan untuk memberikan masukan saran, dan kritik pada saya, bisa langsung pada halaman blog ini atau ke email saya di fuadginting@gmail.com

Depok, 28 November 2014

Bila Saye Berjalan-Jalan Sambil Melihat-Lihat Bahasa

Melakukan perjalanan memang seharusnya tak hanya berarti berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya. Biasanya sangat banyak tersedia waktu luang ketika kita melakukan perjalanan dan akan menjadi sia-sia jika waktu tersebut tak digunakan untuk sekedar memperhatikan, menyelidiki atau memahami tentang sesuatu hal baru yang kita jumpai dalam perjalanan.

Selayaknya sebuah buku, melakukan perjalanan adalah sebuah cara yang mengasyikkan untuk membuka cakrawala. Dengan melakukan perjalanan kemungkinan besar kita akan menemui berbagai hal yang baru dan berbeda dengan apa yang sehari-hari kita temui dilingkungan tempat tinggal kita. Hal-hal baru dan berbeda itu bisa jadi adalah adat-istiadat, bahasa, makanan dan minuman, kebiasaan sehari-hari, pekerjaan penduduk setempat, atau pakaian mereka dan masih banyak lagi. Sehingga sangat wajar jika seorang pejalan memiliki luasnya wawasan yang tak kalah dengan orang yang banyak membaca buku.

Sebuah kebudayaan yang besar dan dominan muncul dari kebudayaan yang disempurnakan dari kebudayaan-kebudayaan di sekitarnya. Mereka mengambil nilai dan tradisi yang baik kemudian di implementasikan kedalam budaya mereka melalui proses interaksi yang panjang sehingga menghasilkan kebudayaan yang lebih sempurna. Dahulu interaksi antar budaya itu terjadi akibat aktor-aktor perjalanan yang dilakukan oleh pedagang atau misi khusus kebudayaan yang dikirim oleh suatu kerajaan ke sebuah negeri untuk menjalin persahabatan. Maka dapat kita lihat dimana wilayah yang dahulu dekat dengan pelabuhan dan perdagangan internasional serta-merta kebudayaannya maju dengan pesat, sedangkan wilayah di pedalaman atau pulau terpencil, kebudayaan suku-suku yang tinggal didalamnya berkembang dengan lambat.

Bicara tentang perjalanan, beberapa waktu lalu saye melakukan perjalanan darat lintas sumatera dengan menggunakan mobil dan bus, serta sempat singgah di beberapa kota. Ada yang menarik perhatian saye dalam perjalanan kali ini – oh ya ini adalah perjalanan pertama saye melintasi jalan Pulau Sumatera dimulai dari ujung lampung kemudian naik keatas kearah barat Sumatera – sebelumnya saye sudah pernah melakukan trip dari Medan Ke Jambi. Apa yang menarik perhatian saye adalah gradasi bahasa yang digunakan oleh masyarakat di tiap-tiap provinsi yang saye lewati. Walaupun saye tak berhenti lama disetiap kota ditiap provinsi, namun interaksi dengan pedagang dan mendengar bahasa penduduk di setiap pemberhentian bus, saye sudah bisa merasakan keunikan bahasa dan menyimpulkan beberapa hal.

Gradasi bahasa ini menarik karena saye menyadarinya ketika telah meninggalkan Lampung dan tengah berada dalam perjalanan ke kota Palembang. saye menyadari bahwa arus perubahan penggunaan bahasa di jalur lintas sumatera ini sejalan dengan jalur migrasi penduduk. Tak hanya dari arah pulau Jawa ke Sumatera, tetapi juga dari arah Sumatera ke Jawa. Di Lampung bahasa yang saye temukan digunakan dalam percakapan sehari-hari sudah banyak bercampur dengan bahasa pasaran yang berasal dari Jakarta. Misalnya pemakaian lu-gue dan istilah serta logat yang digunakan tak berbeda jauh dari istilah dan logat yang digunakan orang-orang di Jakarta. Namun semakin kita ke barat mendekati perbatasan provinsi Lampung dengan Sumatera Selatan, pengaruh bahasa Palembang semakin kuat. Ini terlihat dari bahasa yang banyak digunakan orang di pasar, kemungkinan ini terjadi karena banyak dari mereka adalah orang Palembang yang bekerja atau sudah bermigrasi ke Lampung. Dugaan saye ternyata benar, karena dua orang pekerja sebagai porter di pelabuhan Bakaheuni yang saye ajak ngobrol sebelumnya mengaku berasal dari Palembang, juga pemilik rumah makan dan pelayannya tempat saye transit menunggu tumpangan selanjutnya dari kota Bandar Lampung menuju Palembang.

Di Palembang saye berteduh selama 3 malam sambil mengunjungi tempat-tempat tersohor disana. Palembang memiliki bahasa dan logat yang khas, sangat berbeda dengan logat-logat yang saye temui sebelumnya. Menurut saye yang memang bukan ahli linguistik, bahasa Palembang sekilas terdengar seperti perpaduan bahasa melayu dan jawa yang lebih kental unsur melayunya, karena terdengar mendayu-dayu.

Begitupun di Palembang semakin kita berjalan ke Barat mendekati perbatasan, maka kita akan mendapati bahasa kaum pendatang yang perlahan mendominasi, bahasa Minang. Selidik punya selidik ternyata cukup banyak perantau minang yang menetap dan memiliki usaha di Palembang dan menjadikan bahasa mereka terdengar familiar disini karena mereka menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari diantara sesama orang minang. Bahkan saye menduga bus yang saye tumpangi untuk pergi dari Palembang ke Bukit Tinggi adalah milik pengusaha berdarah minang, karena selain nama armadanya yang berbahasa minang, pegawai, supir serta kernetnya semua berbahasa minang. Ketika saye berada didalam bus itu saye sudah merasa berada di Sumatera Barat bukan di Palembang lagi.

Ternyata penggunaan bahasa minang tak terhenti sampai disitu, ketika saye berhenti untuk makan malam di Jambi, sebagian orang yang saye jumpai terdengar memakai bahasa yang mirip dengan bahasa minang. Meski itu mungkin juga karena saye memang makan di rumah makan padang dan tak bertemu dengan penduduk setempat.

Mendapati kenyataan seperti diatas, kemudian saye tiba-tiba teringat dengan cerita dari teman saye sendiri yang bermukim di Riau. Bahwa di Riau sana yang notabene adalah wilayah kerajaan melayu, namun bahasa lisan dan logat yang populer disana terpengaruh erat dengan bahasa minang. Sepertinya hipotesa bahwa bahasa itu ditularkan dan menyebar dari kegiatan perniagaan benar adanya. Dahulu bahasa melayu begitu populer di nusantara karena para pedagang antar pulau dan negeri tetangga menggunakannya sebagai bahasa dalam perniagaan, hal ini tak terlepas karena dahulu bandar-bandar laut (pelabuhan niaga) internasional yang maju dan ramai ada di tanah melayu di selat Malaka.

Singkat cerita setelah melewati hampir separuh jalan lintas sumatera pantai barat gradasi bahasa masih terjadi, dan polanya tetap sama seperti sebelumnya. Hampir disetiap perbatasan selalu ada percampuran bahasa karena penduduknya juga telah berbaur. Kali ini yang saye dapati adalah gradasi bahasa minang ke bahasa mandailing di wilayah perbatasan Sumatera Barat dengan Sumatera Utara, daerah itu disebut dengan Panti. Masih bagian dari wilayah Sumatera Barat namun saye mendapati banyak orang memakai bahasa Mandailing disitu. Beberapa kali saye pernah singgah di salah satu kedai kopi disitu, saye beranikan diri berteriak ‘tes manis’ (mandailing “tes” = “teh”) kepada yang jaga kedai. Tanya punya tanya dengan sesama peminum kopi disitu memang di Panti ini banyak pendatang dari Sumatera Utara terutama dari Mandailing dan Tapanuli Selatan. Saye tak bertanya lebih jauh sejak kapan pendatang dari Sumut ada di Panti, tetapi sepanjang penglihatan saye masyarakat di Panti terlihat damai dan rukun tanpa ada gejolak sosial karena perbedaan suku. Dugaan saye pembauran itu telah berlangsung lama sejak agama Islam mulai menyebar dari Sumatera Barat ke wilayah Tapanuli Selatan melalui jalur yang saye lewati ini.   — 00 —     Depok, 13 September 2014