Potongan-potongan surat yang tersisa (2)

Waalaikumsalam dynda.

Masa sih dynda kagok ngetik di Word? Emang selama ini buat skripsi pake apaan? Hehehe..

Yup..ternyata dynda masih ingat tentang isi suratnya, well..pembahasan di surat itu memerlukan sedikit referensi untuk membahasnya, panjang surat dynda nto aja 4 lembar.

Balasan ini sebenarnya hanya untuk member jeda dari surat dynda barusan dengan surat balasan sebenarnya nanti yang bakal abg kirim kira2 minggu depan.

Kenapa minggu depan?

Karena abg mau membalas surat tersebut dengan sepenuh hati (ceile…!) hehehe..beberapa pertanyaan di situ perlu dijawab secara serius dan tidak bisa dijawab sepintas lalu, abg juga perlu mencari referensi untuk menjawabnya. Maka itu mudah-mudahan minggu depan sudah agak longgar agenda, karena minggu ini abg harus disibukkan dengan beberapa hal yang tidak berkaitan satu sama lain. Kamis ne malah mw ke Jakarta.

So jangan kecewa dulu ya klo kita tunda pembahasannya….

Btw surat ini ga usah dibalas..tunggu aja surat balasan dari abg selanjutnya..

Thank you..Terima kasih..Arigato..Mbujur…Mauli Ate..

Medan, 31 Agustus 2010

Foo


Assalamualaikum Dynda

Rasanya senang sekali bisa kembali menulis surat lagi.., kadang abg merasa beruntung memiliki teman untuk saling berbalas surat, menulis surat adalah sebuah aktifitas kreatif yang sedikit banyak mencegah otak kita menjadi malas berpikir dan menciut. Sayangnya aktifitas ini sering terkalahkan dengan kesibukan yang memang tidak bisa dihindarkan atau disingkirkan, tapi percayalah abg selalu mencari waktu untuk dapat menulis, menulis surat atau apapun, karena menulis adalah membuat sejarah, sejarah lahir karena tulisan lahir.

          Abg kira pembahasan mengenai Schopenhauer dan Dadaisme tidak lagi kita bahas disini, beberapa surat terakhir kita sudah membahas tentang itu dan belum ada lagi yang perlu didiskusikan tentang hal itu disini, jadi abg pikir kita langsung membahas tentang dua hal yang menjadi ganjalan di pikiranmu beberapa waktu lalu seperti yang tertulis disurat, tapi abg tidak tahu apakah sekarang masih seperti itu atau tidak, atau bahkan dynda sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi mari kita asumsikan saja pertanyaan tersebut masih menjadi ganjalan di benak dyn sehingga abg masih memiliki alasan untuk menulis surat ini.

Diskusi kalian di TST dengan Alief dan Niko cukup menarik, dan diskusi dengan tema seperti itu pastinya sudah banyak diperbincangkan orang-orang Indonesia yang cukup kritisnya melihat anehnya sistem keuangan di dunia. Aneh bukan melihat beberapa mata uang nilai-nya lebih rendah dibanding beberapa mata uang lain, apa yang mendasari semua itu? kenapa tidak bisa rupiah lebih mahal daripada dolar amerika? atau kenapa poundsterling lebih tinggi nilainya tapi tidak berpengaruh besar seperti dolar amerika? Tentunya setiap keheranan dan kebingungan kita terjadi karena sedikitnya pengetahuan yang kita miliki terhadap hal yang kita herankan tersebut.

Pembahasan awal kalian tentang ‘Media Massa’ sedikit banyak sama dengan apa yang abg pahami, media massa merupakan ‘alat’, fungsi jurnalistik, fungsi kontrol kekuasaan atau apapun yang dyn pelajari di kuliah bisa saja tetap ada. Namun media massa sebagai alat bagi penguasa (baik penguasa negara, modal/kapitalisme/korporasi, kelompok elit) untuk membuat dan mengontrol opini publik adalah fungsi utama media massa tersebut berdiri. Abg pernah mendengar satu jargon yang mirip seperti yang dyn tulis, bunyinya seperti ini..” siapa yang menguasai Media, dia yang menguasai negara” atau “siapa yang ingin berkuasa, kuasailah Media” kira-kira seperti itulah bunyinya, namun kiranya pengertiannya sama saja.

Jargon tersebut mengindikasikan pentingnya Media bagi mereka yang ingin menjadi penguasa/pemimpin atau pun yang sudah berkuasa/memimpin di zaman sekarang yang disebut zaman teknologi informasi. Indikasi tersebut menjelaskan kondisi Peta Politik Pertelevisian Swasta kita yang dipegang segelintir Konglomerat dan dua diantaranya Aktif berpolitik, Aburizal Bakrie dengan TV one dan Surya Paloh dengan MetroTV-nya, MNC yang membawahi beberapa stasiun TV dipegang oleh konglomerat Hary Tanoesudibyo yang pasti memiliki pengaruh politik walaupun tidak aktif di panggung politik, bisakah dyn membantu memberi tahu siapa dibelakang media TV lainnya seperti Trans Corporation, dll.

Mengenai persolan mata uang, sebenarnya abg juga tidak terlalu menguasai masalah ini, dan abg tau pembahasan mengenai persoalan mata uang ini cukup rumit, tapi pertanyaan dyn seputar itu masih bisa abg jawab dengan jawaban sederhana. Mengapa Dolar Amerika begitu berkuasa terhadap mata uang lain? Di perdagangan Internasional, mata uang yang kuat/tinggi adalah mata uang yang banyak digunakan untuk bertransaksi dipasar internasional artinya banyak orang yang membutuhkan mata uang tersebut, prinsip ekonomi kapitalisme semakin banyak peminat/permintaan maka semakin tinggi nilai barang tersebut. Sampai disini apakah dyn bisa memahami?

Jadi bila kita sering menggunakan dolar(menukar rupiah dengan dolar) sama saja kita membeli Dolar, didunia ini memang Dolar Amerika lah yang paling banyak dibeli (ditukar dengan mata uang lain). Pertanyaan yang mengikutinya, kenapa USD banyak beredar atau dipakai di transaksi Internasional? Seperti kita ketahui Amerika adalah negara yang mengkonsumsi sebagian besar produksi dunia, juga memproduksi juga beberapa komoditi, mereka banyak melakukan transaksi dagang dengan semua negara diseluruh dunia, dengan begitu mata uang mereka menjadi alat tukar dan menjadi populer menjadi alat tukar internasional, hal itu mendogkrak tinggi nilai USD menjadi mata uang yang berpengaruh, disamping USD memang dipercaya stabil, stabil artinya nilainya tidak pernah naik maupun anjlok secara drastis dan peredarannya terjamin, tidak pernah kekurangan stok uang Dollar, oh iya mungkin disini perlu abg tambahkan pencetakan uang kertas tidak bisa seenak-nya saja dicetak untuk memenuhi kebutuhan pasar terhadap uang cetak/kertas, setiap uang kertas yang dicetak dijamin dengan emas senilai angka nominal yang tertera di uang kertas tersebut, itulah jawaban atas pertanyaan waktu dulu kita kecil saat terjadi krisis moneter, kenapa pemerintah tidak mencetak uang banyak-banyak saja untuk menjamin tersedianya uang? Ya karena pemerintah saat itu tidak sanggup menjamin uang yang dicetak.

Begitulah kira-kira penjelasan mengenai masalah mata uang itu dyn, alasan-alasan seperti diatas membuat USD begitu berpengaruh, dan pemerintah Amerika memang bermaksud menjadikan USD sebagai mata uang terkuat didunia dan mereka melakukan apa saja yang bisa membuat hal itu terjadi, kekuatan itu mendapat tantangan dari uni eropa yang mengeluarkan mata uang Euro, setiap transaksi lokal dan internasional di negara Uni eropa memakai mata uang Euro untuk meredam kekuatan Dolar amerika, dan Euro pun kian berhasil menandingi Dolar tersebut. Banyak negara yang tidak menyenangi AS menolak menggunakan USD dan menggunakan Euro dalam transaksi internasionalnya, karena mereka paham menggunakan USD berarti memperkuat Amerika serikat, bagaimana dengan dyn?

Oke, cukup dengan mata uang yang melelahkan itu, kita beranjak ke Pembahasan Kedua di surat dyn, ada yang pengen abg bahas tentang film-film dan kenapa film barat yang mendominasi wacana perfilm-an kita, namun abg pikir kita dapat membahasnya di surat berikutnya, karena pertanyaan dyn dsini justru tentang filosofi kematian, dan kematian dsini adalah kematian dalam sebuah cerita film atau novel. You’ve been ask my opinion, oke I will tell u what do I think about it. Konteks jawaban ini adalah tentang kematian seorang tokoh utama dalam sebuah cerita. Dyn pikir begitu banyak film yang menceritakan kematian tokoh utama di setiap ending-nya dan menyimpulkan kamatian adalah wacana menarik disebuah film.

Coba kita lihat di beberapa film yang dyn tulis disurat seperti Troy, Gladiator, Braveheart, Van helsing, 300 adalah berasal dari buku sejarah maupun cerita legenda kepahlawanan, jadi film tersebut merupakan interpretasi terhadap suatu karya tulis yang sudah ada terebih dahulu, abg kira V for Vendetta juga berasal dari sebuah novel fiksi. Apa yang mau abg katakan adalah di semua film yang dyn tulis genre nya adalah film kepahlawanan, baik cerita pahlawan kolosal maupun modern seperti Armageddon. Kita berbicara tentang psikologi disini, seorang sutradara pasti sudah merancang cerita yang mampu membawa psikologi penonton ke arah yang ia mau, dan sekarang kita berbicara film kepahlawanan. Cerita Troy, Gladiator, braveheart, 300 mengapa bisa menjadi cerita kepahlawanan yang heroik dan terkenal sampai saat ini menurut dyn kenapa??? Ya karena pahlawannya tersebut mati di saat puncak kejayaannya, mati disaat pertarungan atau disaat ia berjuang. Kepahlawanan seorang tokoh akan melegenda apabila ia tewas disaat ia berjuang, tewas di saat ia masih berjaya, tewas di medan pertempuran, tewas ketika masih muda dan memimpin, bukan mati karena sakit, karena tua dan mati di tempat tidur walaupun ia memiliki jasa saat ia muda.

Seorang yang paham psikologi massa pasti mengetahui hal ini, hal ini sudah ada dan diketahui orang sejak lama, itulah yang menjelaskan misalnya kenapa pemimpin-pemimpin pemberontakan tidak dibunuh saja untuk meredakan pemberontakan? Melainkan dibuang/diasingkan ketempat terpencil atau luar negeri seperti apa yang terjadi pada Sukarno-Hatta yang diasingkan Belanda atau seperti Hasan Tiro yang dibiarkan lari keluar negeri, karena pihak lawan mengetahui membunuh tokoh seperti itu hanya akan menjadikan mereka pahlawan sepanjang masa dan akan meningkatkan perlawanan.

Pada film dan cerita kepahlawan kontemporer hal seperti itu diadaptasi untuk menciptakan sebuah karakter kepahlawanan yang kuat dan utuh dan mampu menjadi acuan terkini pahlawan kontemporer seperti yang ditawarkan V for Vendetta dan Armageddon. Jadi kematian tokoh utama memang disengaja (dikorbankan/ditumbalkan), bukan hanya untuk melengkapi skenario film dan menciptakan efek dramatis pada penonton, tapi juga untuk membuat pahlawan tersebut lebih heroik dan melegenda.

  Well..cukup panjang juga pembahasan surat kali ini, semoga dapat membuat dynda menjadi lebih bertanya-tanya lagi. Karena fenomena disekitar kita memang tidak akan habis-habisnya untuk dieksplorasi, semakin dalam kita gali semakin kita sadari jauhnya kita dari akhir penggalian.

 Wassalamualaikum..

 Selamat Idul Fitri 1431 H

Mohon maaf lahir dan bathin                    

Medan, 13 September 2010

Foo

Iklan

potongan-potongan surat yang tersisa (1)

Mukaddimah

Pada saat saya menulis intro, saya sudah sampaikan keinginan untuk mendokumentasikan juga surat-surat saya disini. Walaupun ini adalah antisipasi yang sedikit terlambat, karena banyak surat-surat yang saya tulis ditahun-tahun sebelumnya tidak dapat ditemukan lagi di hardisk komputer ataupun flashdisk. Namun beberapa potong surat yang ada masih cukup berharga untuk diabadikan dan dipublish di blog ini.

Sudah tentu surat-surat ini bukanlah surat cinta dengan kekasih saya, – klo yg itu mungkin tidak akan saya publish – surat-surat ini adalah alat komunikasi untuk diskusi saya dengan salah seorang junior dikampus, kami berkorespondensi untuk mengeksplor pengetahuan masing-masing, kira-kira begitulah tujuan kami memulai diskusi kami melalui surat-menyurat.

apa yang akan saya publish disini sebenarnya adalah empat surat terakhir dari periode kedua kami berkorespondensi, periode pertama adalah ketika saya sendiri masih kuliah S1. Sedangkan periode pertama dan kedua kira-kira berselang hampir satu tahun lamanya setelah saya tamat. Semoga surat-surat dari periode pertama bisa saya temukan lagi agar segera saya terbitkan juga di blog ini. Oh ya mungkin kalian bertanya-tanya, apakah saya mengetik ulang naskah surat-surat ini di blog? jawabnya tidak. Kebiasaan saya adalah walaupun berkorespondensi dengan surat analog, tapi saya mengetik surat saya di laptop atau PC, bukan ditulis dengan tangan (karena tulisan tangan saya terlalu indah hahahaha). Maka dari itu saya memiliki soft-file surat-surat tersebut di hardisk atau flashdisk saya.

sebagai catatan, nama-nama yang terdapat didalam surat dan dengan siapa saya berkorespondensi telah saya samarkan. Tindakan itu bukan untuk menjaga privasi karena surat ini sejak awal tidak pernah dibuat untuk di publish, tetapi semata-mata untuk menciptakan kesan fiktif-dramatis atas isi surat-surat tersebut bwahahaha :p

Mengenai isi surat tidak ada yang akan dirubah, paling hanya membenarkan ejaan dan merubah nama-nama yang ada. Pemikiran yang tertulis juga merupakan hasil dari tingkat intelektual saat itu dan sesuai dengan konteks pada tahun surat itu dibuat. Jadi kemungkinan besar beberapa pendapat saya dalam surat tersebut tidak relevan lagi bahkan bertentangan dengan pendapat saya saat ini. Well.. semoga surat imut-imut ini bisa menghibur siapa saja yang membacanya dan mudah-mudahan menginspirasi dengan cara-cara yang tak terduga.

letters quote


Minggu 29 Maret 2010
Assalamualaikum Dynda..

kabar selalu baik disini..seperti yang selalu diharapkan…
owh ya, sebenarnya surat ini sudah abg tulis sejak hari sabtu kemaren, sudah separuh halaman membahas dadaisme, tapi file surat yang abg ketik di komputer kantor kemren nto ga bisa dibuka dikomputer abg drumah. Jadinya abg ngetik ulang lagi deh.., mudah-mudahan ga banyak berubah dari apa yang abg tulis sebelumnya.

Memang sudah lama ya kita ga saling berbalas surat..abg aja ga bisa ngingat bulan berapa surat terakhir dari dynda, mau nengok ke kotak penyimpanan surat gak mood pulak..hehehe..omong-omong dah banyak juga koleksi surat abg..kyknya ada puluhan juga tuh…

kemaren waktu dynda nge-sms nanya abg dimana, kirain mw ngasi surat..eh ternyata suratnya blom lagi ditulis ya? But it’s ok…abg hargain usaha mu menulis dalam kesempatan yang sempit seperti itu. lagi pula kamu dapat pengalaman baru menulis selain diatas meja kayu jati drumah.

Ada sedikit yang harus diluruskan mengenai dadaisme. Dadaisme merupakan sebuah gerakan seni dan budaya. Sebuah aliran gerakan pemberontakan diantara seniman dan penulis juga budayawan. Mereka menolak bentuk pemikiran bahwa seni itu adalah sesuatu yang tinggi, mahal dan serius, rumit dan eksklusif. Kaum dadais membenci frame berpikir bahwa seni itu tinggi karena  seni semacam itu adalah milik kaum menengah ke atas yang menurut mereka memiliki estetika semu.

Dadaisme yang lahir di Zurich, Swiss pada masa perang dunia pertama merupakan antitesis dari bentuk seni pada waktu itu, Dadaisme menolak dan anti perang.  Kegiatan gerakan ini antara lain pertemuan umum, demonstrasi dan publikasi jurnal seni/sastra. Seni, politik, dan budaya menjadi topik utama dalam publikasi mereka. Gerakan ini mengilhami kemunculan gerakan-gerakan sesudahnya: Avant-garde, gerakan musik kota, serta kelompok lain seperti Surrealisme, Nouveau Réalisme, Pop Art dan Fluxus. Gerakan ini meliputi seni visual, sastra (puisi, pertunjukan seni, teori seni), teater dan desain grafik. Jadi pada masanya dadaisme merupakan gerakan reformasi dari dunia seni yang menawarkan ide-ide baru, bahan-bahan baru, tujuan-tujuan baru dan orang-orang baru. Dadaisme tidak memiliki karakteristik/kesatuan bentuk seperti yang dimiliki oleh gerakan-gerakan lainnya. Dadaisme seringkali diartikan seperti mengeluarkan ide-ide celaan dan kemarahan besar lalu memasukkannya ke dalam seni, jadi dia sangat nyata.

Kalau kemaren abg bilang dadaisme itu sebuah aliran filsafat, itu karena waktu perkenalan dengan wacana dadaisme ini dengan bg Jacob pas zaman diskusi dulu abg ga mendalami kali tentang dadaisme. Abg  mengklasifikasikannya termasuk kedalam aliran2 baru filsafat modern seperti eksistensialisme. Ternyata ia falsafah gerakan pemberontakan budaya. Eratnya kaitan filsafat dengan sastra, budaya, seni dan politik kadang membuat bingung namun mengasikkan. Orang yang punya pakem tertentu dalam filsafat tentu berpengaruh terhadap karya seni yang ia ciptakan dan pandangan politiknya…itu maksud saya.

Mengenai schopenhauer juga abg sedikit sekali tau tentangnya..kami yang pasti ga saling kenal apa lagi pernah ketemu sebelumnya. (garing ga dyn? Hehehe)
dynda bilang dyn tertarik sama schopenhauer, berarti kamu sedikit banyak telah tahu ttg dia dan pemikirannya bukan?? apalagi nama dyn di FB pake nama dia.
sedikit pengetahuan yang abg baca dari sebuah artikel..yang menjadi karakteristik schopenhauer ia  adalah seorang pesimistik atheis, – brusan di sms dyn blg dia salah satu yg menginspirasi dynda  –
kyknya abg makin ragu nih mw nulis..dynda seharusnya yg berbagi cerita ttg schopenhauer ke abg. Tapi daripada yg abg baca td ga dtulis ga enak jg rasanya.., abg ada memperhatikan ia sangat berseberangan dengan Hegel (yang diyakini sebagai filsuf besar terakhir), karena hegel pemikirannya sangat optimis ttg kehidupan sedangkan ia pesimis. Karena itulah ia tertarik pada Kant, walaupun Kant juga akhirnya byk dikritik olehnya. Karena gelar filsuf tidak akan diberikan kepada orang yang hanya meneruskan pemikiran filsuf sebelumnya, penyandangan gelar filsuf sangat terkait erat dengan originalitas dan kreativitas berpikir, maka schopenhauer mengatakan bahwa pemikirannya adalah koreksi dan penyempurnaan pemikiran Kant.
Schopenhauer juga dekat dengan seni, karena dia mnegatakan “Filsafat telah sejak lama menjalani proses pencariannya secara sia-sia karena ia memang lebih cendrung mencari dengan cara sains daripada dengan cara seni.”
Pengalaman manusia tidak bisa diartikulasikan dalam bahasa universal yang berbentuk konsep-konsep. Namun, pengalaman bisa diartikulasikan dalam karya-karya seni(lihat ttg dadasime diatas-keterkaitan filsafat dan seni). Schopenhauer membagi seni2 ini menjadi arsitektur, lukisan, seni pahat, dan sastra puisi juga drama teater.
Schopenhauer sangat kritis terhadap hidup dan pesimistik, ia berjuang kuat untuk mengalahkan hegel yang pada saat yang sama begitu populer dan lebih banyak disukai mahasiswa pemikirannya. Ia keluar dari universitas dan terus menulis untuk membuktikan bahwa ia tidak kalah besar dari hegel, membuktikan ia benar dan hegel salah. Dan ia berhasil, setelah kematiannya buku dan pemikirannya menjadi inspirasi filsuf-filsuf besar sekaliber Nietsche dan Karl Popper.

Demikian dulu untuk surat kali ini..mungkin ada beberapa hal yg lupa abg tuangkan dalam tulisan ini karena sempat terputus dari tulisan awal yg kemaren. Abg harap dynda memberikan feedback mengenai dua pembahasan kita ini, karena dyn bilang memang harus begitu.., ok. Udah dulu ya…dah ngantuk kali ini hahaha…..

wassalamualaikum
from my own paradise

foo        


Medan, 24 Agustus 2010

Assalamualaikum Dynda

abg ga tw ne mau mulai dari mana pembahasan surat ini, karena memang udah lama ya kita sejenak berhenti surat-suratan…,

beberapa kali sebelum surat balasan ini kita ada berjumpa, ber-smsan, dyn curhat masalah asmaranya..hehehe…bahkan surat terakhir dyn mungkin blum seminar ya? Tapi sekarang udah sarjana…udah diwisuda lagi. Congratulation for you..

coba abg liat dulu ya surat terakhir dari kamu…..
emmm….let me see…

by the way..dynda masih ingat ga surat dyn terakhir membahas apa??

dengan cara mengirim surat melalui email ini abg harap balas-balasan suratnya bisa lebih cepat. Pada surat kali ini belum ada jawaban untuk  suratmu sebelumnya, abg mau pastikan terlebih dahulu apakah kamu masih ingat pembahasan surat terakhir…atau kita mulai membahas topik baru..

foo

Apalah arti seorang Katniss?

Tulisan iseng ini muncul semata-mata karena cemas melihat euforia ide-ide revolusi dan subversif menjadi populer dan dikonsumsi oleh massa melalui cara dan saluran yang diserang oleh ide-ide subversif itu sendiri. Kecemasan itu bukan karena takut massa akan menjadi semakin liar dan tak terkendali, tetapi cemas bahwa mereka hanya menjadi (mengutip istilah Hikmat Budiman dalam buku Lubang Hitam Kebudayaan;Kanisius 2002) gerombolan massa, mayoritas bungkam yang menyerap overproduksi energi dan informasi dari media massa. Gerombolan massa itu secara antusias melahap permainan tanda-tanda yang tanpa akhir dari media yang berakibat meleburnya keunikan budaya-budaya lokal menjadi satu budaya massa yang diciptakan oleh media.

Media massa adalah sebuah alat untuk menyampaikan pesan atau untuk berkomunikasi. Dalam konteks masyarakat modern, ia adalah intrumen dengan apa berbagai bentuk komunikasi dilangsungkan. Paling tidak ada empat kategori media massa yang dominan dalam komunikasi massa masyarakat modern; media cetak (buku, majalah, koran); rekaman (kaset audio, CD, DVD); gambar bergerak (film) serta broadcasting atau penyiaran radio dan televisi. Namun yang ingin saya bahas saat ini adalah film. Sebuah film adalah sarana yang paling efektif untuk menyampaikan pesan kepada khalayak ramai.

Fungsi film sebagai alat komunikasi massa ini telah disadari sejak awal oleh propagandis negara-negara yang terlibat perang dunia I dan II dan semakin luas penggunaannya ketika masa perang dingin (persaingan pengaruh ide, keilmuan dan teknologi) antara negara-negara blok Timur (komunisme) dan Barat (kapitalisme). Pada masa itu film tidak pernah diproduksi hanya sebagai hiburan semata, didalamnya disisipkan pesan melalui kalimat dan kata-kata, gambar dan tanda-tanda, yang memiliki nilai spesifik untuk mempengaruhi kesan yang akan diterima oleh penontonnya akan suatu hal.

Pentingnya sebuah film dalam misi dominasi suatu (budaya) negara terhadap negara lain dapat kita lihat ketika dulu film impor dari Hollywood dibatasi dan diberi kuota. Sementara Amerika melihat Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang besar mestinya menjadi sasaran cultural brainwash melalui film-filmnya. Waktu itu periode 1980-an sebagian besar ekspor tekstil kita pasarnya adalah ke Amerika, akhirnya Amerika mengancam akan menutup ekspor tekstil dari Indonesia kalau keran film-film Hollywood tidak dibuka bebas, dan tentu saja akhirnya Indonesia menurut.

Anehnya beberapa tahun kebelakang justru film-film bertemakan pemberontakan kepada pemerintah atau pembangkangan terhadap suatu sistem yang sangat mapan semakin populer. Dalam pengalaman saya setidaknya itu saya sadari ketika menonton film ‘Fight Club’ (1999) yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Chuck Palahniuk, kemudian diawal milenium baru semakin banyak bermunculan film yang bertema sama –penghancuran sistem – sebut saja V for Vendetta’ (2005) yang dampaknya begitu luas begitu kita melihat banyak pemuda-pemuda dari aliran anarki memakai topeng Guy Fawkes dalam demonstrasi mereka sebagai simbol anti pemerintah.

Apabila ‘Fight Club’ kental unsur anarki sindikalisnya dan ‘V for Vendetta’ malah terang-terangan menganjurkan terorisme dan pembangkangan sipil terhadap pemerintah yang totalitarian, berbeda dengan film yang belakangan ini muncul seperti trilogy The Hunger Games dan Divergent. Film-film yang disebut belakangan ini menyajikan alur cerita yang tidak terlalu frontal berhadapan dengan sistem yang ditentangnya.

Dengan tokoh utamanya seorang perempuan dan dibalut dengan kisah asmara maka film ini jika tidak dihayati dengan seksama hanya akan berakhir menjadi film remaja-dewasa tentang kisah perjuangan mencari jati diri dan cinta. Padahal pengamatan saya pribadi film trilogy The Hunger Games khususnya memiliki pesan-pesan pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintahan yang totalitarian serta korup. Pesan-pesan ini ada yang tampak jelas dalam adegan-adegan filmnya, melalui dialog dalam film tersebut ataupun tanda dan simbol yang muncul di film tersebut.

Banyaknya peminat film ini dari kalangan anak-anak muda, (terlihat ketika Mockingjay part 1 dirilis banyak penontonnya juga adalah anak SMA) membuat saya bertanya-tanya cemas apakah mereka juga menangkap pesan-pesan revolusi dan makna-makna yang disampaikan oleh film tersebut.

Ide-ide mengenai revolusi yang dahulu sakral dan hanya bisa dikonsumsi terbatas – karena memang dibatasi oleh otoritas berkuasa atau karena memang peminatnya memang hanya segelintir orang – kini menjadi sebuah tontonan di teater-teater yang filmnya diproduksi sendiri oleh negara yang berniat menghegemoni dunia. Begitu paradoksnya, namun kenyataan ini memang sesuai dengan sifat liberalisme pasar yang mengutamakan selera dan permintaan pasar. Saya teringat dulu ada lelucon dalam pergaulan anak-anak kiri seperti ini; “seandainya laku untuk dijual, nenek mereka sendiri pun akan dijual oleh kapitalisme”

Sebenarnya tidak ada yang salah jika ide-ide revolusioner itu masuk dalam film dan disebarluaskan ke masyarakat, kelompok-kelompok progressif pasti menyambut baik film-film sejenis ini. Namun industri film pasti memiliki logikanya sendiri, dari awal mereka hanya berniat untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari film yang mereka produksi.

Dan bukan kebetulan kenapa film bertema revolusi ini yang mereka produksi, bukan karena basis novelnya yang laku keras –karena novelnya tidak terlalu populer misalnya jika dibandingkan dengan Harry Potter – saya menduga pertimbangannya adalah karena pemberontakan sipil terhadap pemerintahnya memang sedang bersemi dimana-mana, sebut saja gelombang arab spring yang dimulai di Tunisia tahun 2011 sampai runtuhnya pemerintahan otoriter di Mesir dan Libya yang efeknya masih berlanjut hingga kini.

Kota-kota di Eropa juga sempat diguncang demonstrasi-demonstrasi dengan level yang berbeda, kota Madrid dan negara Yunani sempat dilumpuhkan oleh demonstran yang menuntut hal-hal normatif hingga di Ukraina yang demonstrasi masyarakat sipilnya berhasil melengserkan presiden mereka, peristiwa yang berdampak pada berubahnya wajah Ukraina dan pergeseran peta kekuatan politik di wilayah itu hingga saat ini.

Tidak hanya itu di Asia, Thailand dan Hongkong masih larut dalam gerakan massif rakyat menentang pemerintah dengan masing-masing tuntutan yang spesifik. Dengan landasan pasar demikian, yang euforia pada perubahan dan sikap anti pemerintah seperti ini, film seperti trilogy The Hunger Games yang menjual cerita tentang pemberontakan rakyat terhadap pemerintah pusatnya menemukan target pasar yang emosi dan psikologisnya sesuai dengan film dagangan mereka.

Dengan apik cerita revolusioner ini dikemas dengan tokoh utamanya perempuan muda yang cantik dan polos, berbeda dengan tokoh-tokoh revolusioner abad 20 yang berasal dari organisasi perjuangan, ideologis dan kharismatik dan kebanyakan laki-laki. Sehingga film ini menarik penonton dari banyak kalangan tanpa tendensi pada satu jenis kelas, ideologi dan preferensi politik bahkan umur dan jenis kelamin.

Namun Jika penonton melihat dari perspektif yang lebih jeli, maka pertautan kisah cinta segi tiga dalam film ini antara Katniss, Peeta dan Gale hanyalah bumbu pemanis belaka bagi ide besar tentang revolusi menumbangkan kekuasaaan Capitol yang represif, dekaden dan menghisap itu.

Memakai metode semantik – saya pelajari secara otodidak – banyak pesan-pesan ‘khusus’ yang dapat ditemukan dalam dialog maupun adegan dalam film ini (dalam tulisan ini saya khususkan objeknya adalah dua sequel pertama The Hunger Games dan Catching Fire).

Di sequel pertama saya mencatat secara khusus dialog yang disampaikan presiden Snow, kalimat-kalimat yang diucapkannya dalam dialog bisa jadi adalah rahasia yang selama ini dijalankan oleh penguasa di negara-negara diseluruh dunia termasuk Indonesia ;).

Presiden Snow pernah berbicara tentang hope/harapan;

“harapan lebih kuat dibandingkan ketakutan.”

“Sedikit harapan bisa efektif tetapi terlalu banyak harapan bisa berbahaya (lot of hope is dangerous).”

“Secuil harapan tak masalah selama itu bisa dikendalikan”

Pernyataannya itu disampaikannnya dalam konteks bagaimana ia selama ini mengendalikan ke 12 distrik dibawah Capitol. Dia percaya dengan memberikan harapan kepada rakyat disetiap distrik untuk dapat sekedar hidup, mereka tidak akan memberontak, tidak perlu terlalu represif. Namun harapan yang berlebihan – seperti percaya bahwa Capitol dapat dilawan – akan sangat berbahaya bagi sistem kekuasaan.

Katniss sejak awal penampilannya dalam permainan Hunger Games memang telah menarik perhatian distrik-distrik lain. Kecantikan, simpati dan keberaniannya yang polos dalam menentang sistem Capitol menginspirasi rakyat-rakyat di distriknya atau distrik lain untuk juga berontak kepada Capitol. Pembangkangan Katniss pertama kali saya catat pada sequel pertama ketika temannya Rue dari distrik 11 terbunuh, setelah ia menghias jenajah Rue, Katniss kemudian mengangkat tangan dengan mengacungkan 3 jari tengah (telunjuk, jari tengah dan jari manis) ke kamera – entah bagaimana asal muasalnya, salam seperti ini ditangkap sebagai simbol perlawanan kepada Capitol yang dikenal oleh seluruh distrik – dan langsung direspon oleh distrik 11 (distrik pertanian) dengan kerusuhan dan penghancuran lumbung-lumbung makanan hasil pertanian mereka.katniss

Ketika kerusuhan terjadi, Capitol tentu saja panik dan ingin membunuh Katniss yang dianggap memprovokasi dengan acungan 3 jarinya itu. Namun Haymitch (mentornya Katniss dan Peeta dalam games ini) mencoba merayu game director agar tidak menyingkirkan Katniss. Dialognya saya catat mengandung unsur manipulasi massa yang mirip dengan kata-kata Presiden Snow sebelumnya, walaupun Haymitch dalam hal ini menyampaikannya dalam konteks yang berbeda;

“jika kau tidak bisa menakuti mereka (distrik yang berontak), berikan mereka hal yang bisa mereka percayai”

Haymitch bermaksud bahwa menyingkirkan (membunuh) Katniss dari permainan bukanlah solusi untuk meredakan pemberontakan di distrik. Sebaliknya Capitol harus memberikan sebuah kepercayaan (cerita) baru yang menjadi harapan bagi mereka hingga mereka tidak perlu memberontak dan hanya menunggu harapan itu terwujud. Walaupun nasehat Haymitch ini jitu, tentu saja ia hanya bermaksud untuk menyelamatkan nyawa Katniss, dan nasehat ini akhirnya membawa malapetaka bagi si game director ketika Katniss dan Peeta memenangkan permainan (harapan rakyat distrik terwujud).

Beberapa orang dapat membaca pesan-pesan pembangkangan, beberapa yang lain terlena hanya dengan apa yang tampak. Kita bisa melihat fenomena seperti itu dengan mengambil salah satu adegan ketika Katniss dan Peeta berada pada akhir permainan, peraturan diubah tiba-tiba dengan sepihak oleh game director bahwa hanya satu orang yang boleh hidup.

Katniss menolak mengikuti peraturan dan mengabaikan bahwa ia harus membunuh Peeta (kekasihnya dalam permainan ini), ia malah menawarkan pada Peeta untuk bunuh diri bersama-sama dengan memakan buah berry beracun daripada harus hidup tanpa Peeta kekasihnya. Akhirnya game director menyerah dan membiarkan mereka berdua tampil sebagai pemenang.

Peristiwa tersebut terlihat sangat menyentuh, dan ini disukai oleh penonton di Capitol. Bahwa tindakan yang dilakukan Katniss benar-benar merupakan tindakan tulus tanpa pretensi apa-apa selain cinta. Namun presiden Snow menyadari hal ini sebagai potensi perlawanan yang bisa menginspirasi distrik-distrik untuk melawan dan melakukan pemberontakan yang mengarah pada revolusi, dan sistem bisa runtuh. Apa maksud Presiden Snow?

Snow sebagai pusat kendali dari sebuah sistem memiliki perspektif yang berbeda dengan orang-orang awam. Dia melihat bahwa tindakan Katniss yang ingin mati bersama dengan Peeta itu bukanlah sebuah sikap yang romantis, ia melihat tindakan itu sebagai sikap pembangkangan terhadap perintah Capitol. Dan setiap pembangkangan terhadap perintah Capitol akan mengurangi wibawa kekuasaan ditengah-tengah rakyat yang selama ini menjaga sistem tetap stabil. Jika seorang Katniss berani menentang perintah Capitol untuk menyelesaikan permainan dengan membunuh Peeta, maka semua orang juga bisa menentang dan membangkang terhadap perintah Capitol.district 11

Pada sequel kedua, praktik-praktik manipulasi kesadaran rakyat semakin gencar dilakukan oleh Capitol, bahkan kali ini menggunakan Katniss dan Peeta sebagai aktornya karena mereka adalah pemenang permainan dan disukai oleh penduduk Capitol dan rakyat di distrik-distrik. Harapan Capitol adalah Katniss dan Peeta dapat menjadi hiburan bagi rakyat sehingga melupakan masalah kehidupan mereka. (merasa seperti di Indonesia? :D)

Haymitch pernah menceramahi Katniss dan Peeta soal ini;

“kini kalian menjadi sorotan, membawa kalian keluar dan menyiarkan rincian kisah cinta kalian. Tiap tahun kehidupan pribadi kalian jadi milik mereka. Mulai sekarang, tugas kalian adalah jadi pengalih perhatian, sehingga orang lupa dengan masalah yang sesungguhnya”

Presiden Snow yang selalu khawatir terhadap potensi Katniss sebagai simbol perlawanan terhadap Capitol ingin sekali menghabisi Katniss. kita bisa mempelajari bagaimana jalan pikiran seorang tirani ketika kemghadapi orang seperti Katniss dari dialog presiden Snow ini;

“dia bukan pemimpin, dia hanya ingin menyelamatkan dirinya saja. Tapi dia sudah jadi cahaya harapan bagi pemberontakan, dan dia harus disingkirkan.”

Plutarch, game director pada sequel kedua ini menggantikan game director sebelumnya yang dieksekusi presiden Snow rupanya memiliki pemikiran yang lebih licik untuk menyingkirkan Katniss. (pada akhir sequel kedua ini ternyata Plutarch merupakan salah satu dari beberapa orang yang bersekongkol mengadakan revolusi termasuk juga Haymitch)

Plutarch kepada Presiden Snow: “aku setuju dia harus mati, tapi dengan cara yang tepat, pada waktu yang tepat. Ini soal rencana dan siasat, hanya itu yang perlu kita perhatikan. Katniss Everdeen adalah simbol, Mockingjay mereka. Mereka (rakyat di distrik) pikir dia bagian dari mereka. Kita harus tunjukkan bahwa dia bagian dari kita (Capitol). Kita tak perlu menghancurkannya, cukup citranya saja, lalu biarkan rakyat bertindak”

Snow: “tak kan berhasil selama mereka punya harapan, dan Katniss Everdeen memberi mereka harapan.

Plutarch: Semaikan rasa takut, ia akan tumbuh

Dalam sequel kedua ini juga dapat kita lihat perbedaan pendekatan yang digunakan oleh Plutarch dan game director pertama dalam menghadapi Katniss dan rakyat di distrik. Meskipun pada akhir sequel kedua ini saya baru menyadari bahwa taktik ini sengaja dibuat Plutarch untuk menaikkan eskalasi perlawanan rakyat kepada Capitol.

Plutarch memanipulasi kebencian sekaligus ketakutan presiden Snow terhadap Katniss dengan mengusulkan kebijakan menggandakan hukuman kepada distrik yang memberontak dan mengadakan razia terhadap pasar-pasar selundupan yang membuat rakyat distrik putus asa, dan menampilkan Katniss sebagai seorang yang menikmati kemewahan di Capitol. Taktik Plutarch ini merupakan sebuah penciptaan pra-kondisi untuk pecahnya sebuah revolusi meruntuhkan sistem Capitol.

Memahami pesan-pesan yang tampil dalam dialog dan adegan dua sequel film ini membuat saya menyadari ironi yang terkandung dalam film ini. Dari dialog-dialog yang saya kutip diatas, film ini menyindir tentang kebudayaan massa yang dangkal, hanya mengapresiasi apa yang tampak bukan apa yang menjadi substansi. Mengkritik media massa yang menampilkan kehidupan selebritas mulai dari kisah percintaan mereka, perkawinan mereka dan kehidupan pribadi mereka (seperti televisi kita saat ini).

Dan kurang jelas apalagi ironinya kalau kita mengandaikan bahwa distrik-distrik itu adalah provinsi-provinsi di negara kita, yang kekayaan dan rakyatnya dikuras dan dihisap untuk kepentingan dan kekayaan pemerintah pusat. Provinsi-provinsi dibuai dan terlena dengan ide-ide nasionalisme dan persatuan. Untuk memberikan harapan dan penghargaan dibuatlah kompetisi olahraga untuk memilih provinsi mana yang terbaik dalam kompetisi seperti Pekan Olah Raga Nasional atau Liga Sepak Bola dimana rakyat merasa memiliki dan bangga timnya menjadi juara nasional.

Inilah ironi yang saya tangkap, ternyata saya dan penonton-penonton film ini adalah orang yang sama dengan mereka yang bersorak-sorai di Capitol itu, adalah orang yang sama dengan mereka yang bekerja di tambang, ladang pertanian di distrik-distrik miskin yang dihisap sari kehidupannya, hanya bedanya kami berada dunia nyata sedang mereka hanya fiksi, mereka memiliki Katniss Everdeen dan Peeta Mellark kami punya Anang dan Ashanti.