Sebagai Warga Negara Republik, Meiliana Harus Dibela.

Demokrasi seharusnya menjadi sebuah ruang terbuka untuk menyampaikan gagasan, ide, dan pengetahuan. Termasuk menerima pendapat yang berbeda didalam masyarakat. Demokrasi diandaikan sebagai ruang, dimana harapan setiap individu dikontestasikan sebagai upaya konstruktif menuju kebaikan bersama. Maka sebenarnya, perbedaan pendapatlah yang melatarbelakangi demokrasi (disensus), bukan semata-mata kesepahaman (konsensus).

Kita memilih demokrasi karena para pendiri bangsa menyadari kemajemukan dan perbedaan yang hadir dalam tubuh bangsa Indonesia. Bukan hanya perkara perbedaan identitas, tetapi juga ide gagasan yang hadir disetiap individu. Untuk itulah kebebasan menyuarakan pendapat diatur di dalam konstitusi kita UUD 1945, pasal 28E ayat 3.

Satu kejadian memilukan datang dari Tanjung Balai, Sumatera Utara. Di mana seorang ibu rumah tangga bernama Meiliana terkena vonis 18 bulan penjara akibat menyampaikan pendapatnya terkait “suara Azan yang terlalu keras”. Meiliana didakwa atas dasar pasal Penodaan Agama pasal 156 subsidair 156a pada 21 agustus 2018 oleh Pengadilan Negeri Sumatera Utara dengan bunyi pasal: “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja dimuka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang terjadi di Indonesia”.

Tentu vonis yang dijatuhi kepada Meiliana merupakan bagian dari ketidakadilan dan harus ditentang sebagai suatu pemihakan terhadap kebebasan berpendapat yang dijamin oleh konstitusi. Terlebih lagi, apa yang disampaikan oleh yang bersangkutan adalah perkara “Suara azan yang terlalu keras” bukan Azannya itu sendiri. Tentu ini bisa diselesaikan dengan asas kekeluargaan, dan suami dari Meiliana telah meminta maaf terkait protes istrinya  tersebut. Tetapi sentimen identitas dan hoaks sudah tersebar di kalangan masyarakat sekitar, hingga pada 29 Juli 2016 terjadi intimidasi dan perusakan rumah Meiliana, lalu kemudian pembakaran belasan rumah ibadah umat Budha di Kota Tanjung Balai.

MUI yang pada saat itu enggan mengeluarkan fatwa, mendapatkan tekanan dari berbagai ormas yang ada didalamnya. Hingga pada Januari 2017 MUI mengeluarkan fatwa bahwa apa yang disampaikan oleh Meiliana sebagai bentuk penodaan agama. Maret 2017 Meiliana ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Sumatera Utara. Meiliana yang merupakan seorang penganut Budha dan memiliki empat orang anak ini tidak sepantasnya dijatuhi vonis 18 bulan penjara karena ia hanya memperbandingkan antara suara Azan yang dulunya tidak sekeras suara azan waktu itu.

Perlakuan yang didapatkan oleh Meiliana merupakan bagian dari diskriminasi, persekusi dan sentimen identitas. Pasalnya, sebelum ia dibawa ke muka pengadilan, sebagai warga negara ia diperlakukan dengan cara-cara yang diluar jalur hukum, mengandaikan bahwa Meiliana adalah seorang Budha dan ber-etnis Tionghoa, yang menurut sebagian oknum warga tidak pantas untuk mengungkapkan hal tersebut. Padahal apa yang dilakukan oleh Meiliana dijamin oleh Konstitusi sebagai hak bagi seluruh warga negara, terlepas apa identitas yang melekat pada dirinya.

Selain itu, vonis yang dijatuhkan kepadanya tidak relevan. Dengan menggunakan pasal penodaan agama 156, vonis tampak dipaksakan akibat tekanan dari massa yang menginginkan Meiliana dipenjara sebagai bentuk sentimen yang berkembang akibat tersebarnya hoaks yang begitu cepat. Ini menandai bahwa proses hukum tidak berada pada koridor rule of law dan fair trail. Vonis dijatuhkan atas dasar demi menyenangkan mayoritas yang terlanjur benci dan terpapar kabar bohong. Di satu sisi Meiliana di vonis 18 bulan, sedangkan sejumlah oknum yang melakukan kerusuhan dan pengrusakan rumah ibadah Vihara hanya dijatuhi hukuman 1,5 sampai 2 bulan saja. Padahal terang, oknum-oknum inilah yang menimbulkan keresahan sebagai ekspresi berlebihan atas dasar kebencian terhadap identitas tertentu.

PSI tentu secara etik berpandangan bahwa apa yang dialami oleh Meiliana sebagai bentuk ketidakadilan hukum dan meminta agar yang bersangkutan diterima bandingnya untuk mendapatkan keadilan.meilianaMeiliana sama sekali tidak melakukan penodaan atas agama apalagi mengujarkan kebencian terhadap agama, dalam hal ini Islam. Ini adalah bentuk kemarahan sebagian oknum yang memandang Meiliana dari sisi identitas yang melekat pada dirinya: Thionghoa dan Budha. Sama sekali tidak ada nada sinis dan meresahkan, karena porsi Meiliana sebagai orang yang bertanya mengenai kodisi: “Suara azan yang keras”. Harusnya pertanyaan ini hanya perlu untuk dijawab, bukan malah menyeretnya ke muka hukum dengan sangka dan dakwaan penodaan agama.

PSI selalu menganjurkan toleransi harus dikedepankan demi menjaga keharmonisan ditengah pluralitas suku maupun agama, juga perbedaan pendapat. Sehingga kecenderungan kearah disintegrasi akibat aksi intoleransi harus dilawan sebagai pemihakan terhadap hak asasi manusia. Demokrasi harus menjadi instrumen penjamin setiap warga negara untuk mengekspresikan pendapatnya. Meiliana harus dihitung sebagai warga negara tanpa diskriminasi dan marjinalisasi akibat ke minoritasannya. Maka hukum harus sanggup mengatakan yang benar sebagai benar dan salah sebagai salah tanpa harus takut oleh tekanan mayoritas. Hukum mesti dapat menyuarakan kebenaran diatas apapun tanpa intervensi demi rasa keadilan dan hati nurani.

ditulis oleh: Irfan Prayogi, Agustus 2018.

diedit seperlunya oleh admin.

Iklan

PILGUBSU, Mencari Sosok dengan Kualitas Baru

Beberapa waktu yang lalu saya terlibat obrolan dengan dua orang berbeda namun dengan topik serupa; suksesi Gubernur Sumatera Utara 2018.  Kebetulan dua teman saya itu adalah praktisi politik dari Jakarta, walaupun kami ngobrolnya diwaktu dan kesempatan berbeda mereka berdua sama-sama bertanya dan mengeluhkan gersangnya lahan politik Sumut dari tokoh-tokoh pemimpin baru yang berintegeritas dan kapabel. Tentunya pertanyaan dan keluhan ini membuat kegelisahan tersendiri bagi saya sebagai warga Sumatera Utara.

Saat ini, lebih kurang setahun lebih menjelang Pilgubsu 2018, nama-nama yang muncul kepermukaan belum lagi mampu mengugah pesimisme masyarakat terhadap perubahan politik yang berarti bagi sumut. Ya, pesimisme sudah tumbuh di benak masyarakat Sumut sejak trend kepala daerah terpilih pasti tidak ada yang selesai menjalankan amanah satu periode kepemimpinannya. Biasanya dalam dua atau paling lama tiga tahun setelah dilantik kepala daerah tersebut akan tersangkut masalah korupsi dan kemudian digantikan oleh wakilnya.

Kita lihat saja mulai dari gubernur terpilih pada Pilkada 2008 silam, Syamsul Arifin. Pada tahun ketiganya Syamsul ditangkap KPK, diproses lalu ditahan sehingga tugasnya sebagai Gubernur dilaksanakan oleh wakilnya Gatot Pujonugroho (GPN).  GPN menghabiskan sisa masa pemerintahan dan kemudian mencalonkan diri lagi sebagai Gubernur Sumut berpasangan dengan Tengku Erry Nuradi pada tahun 2013.

Seperti mengulangi sejarah, GPN kemudian masuk tahanan karena kasus penyalahgunaan anggaran bantuan sosial, wakilnya T. Erry mengambil alih kepemimpinan Sumut. Hingga saat ini sampai periode pemerintahan berakhir 2018 nanti T. Erry masih mantab memimpin sumut, dan sudah digadang-gadang untuk maju bertarung lagi sebagai Sumut 1 pada Pilgubsu nanti. Namun kabut pesimisme terhadap kepemimpinan T. Erry kedepan tetap menggelayut, karena rekam-jejak kepemimpinannya tidaklah mulus dan potensi mengulangi sejarah dua gubernur sebelumnya terulang kembali begitu besar.

Trend kepala daerah yang tesangkut korupsi dan terjegal dari kursinya bukan hanya monopoli Pemerintahan Provinsi, Walikota Medan dua periode sebelum sekarang juga mengalami hal serupa. Pasangan Abdillah-Ramli yang terpilih terakhir dengan mekanisme dipilih oleh anggota DPRD pada tahun 2005 bahkan tersangkut masalah korupsi secara bersamaan, sehingga kota medan harus dipimpin oleh Sekretaris Daerah dan Pelaksana Tugas sampai pilkada berikutnya. Pilkada tahun 2010 yang diharapkan memecahkan kebuntuan politik di Medan setelah vakum ditinggal Walikotanya, antusiasme masyarakat juga tampak meningkat dengan munculnya 10 pasangan calon dengan latar belakang beragam.

Namun Rahudman Harahap dan Dzulmi Eldin pemenang Pilkada Kota Medan yang sampai dua putaran itu mengalami antiklimaks. Rahudman yang terpilih dalam pilkada langsung pertama dikota Medan itu tidak dapat menghabiskan satu periode jabatannya karena  terjerat kasus korupsi yang dilakukannya pada jabatan sebelumnya. Kembali kota Medan ditinggalkan pemimpinnya karena kasus korupsi dan Dzulmi Eldin wakil Walikota menjabat sebagai pelaksana tugas yang kemudian maju lagi dalam pilkada selanjutnya tahun 2015 menjadi Walikota Medan.

Dengan rekam-jejak hasil Pilkada seperti itu – baik di Sumut, Medan dan kab/kota disekitarnya –  akhirnya menghasilkan apatisme politik ditengah-tengah masyarakat. Setiap kepala daerah yang maju dan menang dalam kontestasi telah diukur berapa lama akan bertahan sebelum diciduk oleh kejaksaan atau KPK yang kemudian akan digantikan oleh wakilnya dan apabila beruntung akan maju lagi sebagai nomor satu diperiode selanjutnya untuk kemudian tertangkap lagi dan digantikan lagi oleh wakilnya, begitu seterusnya.

Indikasi paling nyata dari apatisme itu adalah Pilkada kota Medan akhir tahun 2015 lalu, Plt Walikota Dzulmi Eldin maju lagi sebagai calon Walikota melawan Ramadhan Pohan (tokoh yang didatangkan dari Jakarta). Eldin maju dengan dukungan mayoritas Partai dan menang. Namun pemilih yang menggunakan hak suaranya ke TPS hanya berkisar 30%  saja. Artinya apa? Bahwa ada 70% pemilik suara bersarkan DPT tidak peduli lagi siapa yang akan menjadi walikota Medan, dengan kata lain Pilkada tersebut tidak menarik bagi mayoritas warga Medan karena kualitas tokoh yang ditawarkan untuk menjadi pemimpin sudah kadaluwarsa.

Pemimpin dengan kualitas-kualitas baru

Kembali lagi kepada upaya pencarian sosok pemimpin untuk Sumut, kita masih kesulitan mencari kualitas-kualitas pemimpin generasi baru. Kalau saja kita jeli, bahwa sudah tampak di beberapa wilayah lain di Indonesia, bahkan pada Presiden kita sendiri. Pemimpin generasi baru itu adalah orang-orang biasa, bukan dari keluarga elit politik, bukan dari konglomerat, dan bukan juga petinggi Partai Politik. Mereka adalah orang-orang yang berdedikasi pada bidangnya dan membuktikan dirinya mampu memimpin dengan baik di daerahnya masing-masing.

Era orang-orang besar sudah berakhir, kini saatnya orang-orang biasa yang tampil memimpin. Bukan karena pencitraan atau rekayasa media namun karena zaman sudah berubah dan rakyat memang menginginkan kualitas seperti itu. Pemimpin bukanlah lagi orang yang berjarak dengan yang dipimpinnya, karakter pemimpin yang diidamkan adalah seorang pelayan bagi rakyatnya bukan lagi yang dilayani oleh bawahannya. Pemimpin adalah orang yang ikut bekerja bukan lagi orang yang berkarakter seperti komandan atau raja yang memberi perintah dari singgasana. Mampu memberikan terobosan kebijakan baru, bukan hanya melanjutkan agenda usang sampai jabatannya berakhir.

Jika ada sosok yang karakternya mendekati kualitas-kualitas diatas, maka layaklah dia menjadi pemimpin generasi baru kedepan. Namun dari obrolan dengan kedua teman tadi, kami memeriksa sekilas kualitas pemimpin dari 33 kab/kota di Sumatera Utara, kira-kira siapa yang berpotensi menjadi pemimpin Sumut kedepan dengan kualitas baru tadi? Jawabnya tidak ada. Bahkan dari 33 Kab/kota tersebut tidak ada prestasi yang menonjol dan gebrakan baru dalam pembangunan di daerah masing-masing yang mereka pimpin.

Tradisi politik dan lingkungan keorganisasian yang melestarikan budaya-budaya lama seperti premanisme dan pemalakan terorganisir membuat miskinnya regenerasi  sosok pemuda yang memiliki kualitas karakter pemimpin baru. Orang-orang muda yang tersedia kebanyakan hanya muda secara umur dan fisik, namun mereka hanya kelanjutan dari tradisi kepemimpinan model lama yang dilestarikan sejak Orde Baru berkuasa. Jangan harapkan kreativitas muncul dari jenis pemuda seperti ini, mereka hanya tahu menakut-nakuti, meminta sumbangan dan ‘menjual jasa’ pengamanan, cara-cara primitif untuk mendapatkan uang yang katanya untuk pengembangan organisasi.

Kebuntuan ini harus dipecahkan oleh kita warga Sumut sendiri, pemimpin sumut kedepan harus sosok yang lahir dan tumbuh berkembang di Sumatera Utara. Bukan karena alasan pemuda daerah yang harus memimpin daerahnya, tapi lebih karena mereka yang merasakan sendiri kegelisahan rakyatnya, mengetahui apa yang dibutuhkan oleh rakyat Sumut maka kebijakan yang dibuatnya kelak akan lebih berdampak langsung. Alasan ini sekaligus juga untuk menampik kecenderungan beberapa partai yang selalu membawa tokoh dari Jakarta untuk ikut meramaikan bursa Pilgubsu hanya karena tokoh tersebut memiliki identitas kesukuan dari Sumut atau pernah bertugas di Sumut, namun belum tentu pernah mengunjungi 33 kabupaten/kota di Sumut yang masing-masing merepresentasikan kearifan budaya dan tradisi lokal yang berbeda-beda pula.

Tulisan ini dibuat untuk menggugah siapa saja yang perduli pada peningkatan pembangunan Sumatera Utara, provinsi ini mulai tertinggal dari provinsi lain karena masalah politik dan kepemimpinannya yang tidak kunjung beres. Di saat provinsi lain sibuk membangun infrastruktur dan dasar perekonomian daerahnya, kita masih disibukkan dengan Gubernur dan Wakil Gubernur yang dipanggil ke kantor KPK. Secara bersama-sama masyarakat dan partai politik yang ada harus komitmen mendukung dan mengusung sosok yang bersih dan berintegritas serta memiliki visi membawa kemajuan bagi Sumut. Namun sebelum itu kita masih memiliki tugas menggali dan menemukan potensi-potensi bibit lokal yang bisa menjadi pemimpin masa depan dari Sumatera Utara.

Yang mulia, kalau golput sampai 80% itu salah siapa?

Kalau saya tidak salah Pilkada Kota Medan  tahun  2015 ini mencatatkan rekor tertinggi pemilih yang tidak menggunakan hak suaranya diseluruh Pilkada yang dilaksanakan di Indonesia. Kekecewaan tentu saja merebak ditengah masyarakat mengingat untuk kegiatan demokrasi kota medan ini dianggarkan dana yang tidak sedikit, berkisar 56,6 Miliar Rupiah.

Tentu tidak ada satu pihak pun yang mau disalahkan atas rendahnya partisipasi pemilih di kota Medan ini. Namun komisioner KPU Kota Medan Pandapotan Tamba terlihat terburu-buru melempar bola atas tidak semaraknya gawean yang mereka selenggarakan ini, dapat kita lihat dari pernyataannya didepan wartawan di Kantor KPU Medan Rabu (9/12/2015); “Kami sosialisasi udah maksimal kok. Dasar masyarakatnya saja yang apatis. Mereka tidak mau tahu,”. KPU memang tidak dapat dijadikan sebagai satu-satunya yang bertanggung jawab atas rendahnya partisipasi, namun pernyataan Komisioner KPU yang menyerah terhadap apatisme masyarakat dengan dalih sudah melakukan sosialisasi maksimal juga terdengar konyol dan lepas tanggungjawab.

Pernyataan saudara Komisioner tersebut kemudian soal keabsahan Pilkada yang tetap legal dan sah walaupun golput tinggi memang telah dijamin Undang-Undang; “Tetap sah. Tetap legal. Pemilu kali ini paling aman, paling jujur, paling adil. Hanya golputnya aja yang tinggi,” namun penyataan ini menggambarkan mindset penyelenggara pemilu yang prosedural, tidak peduli hakikat demokrasi asalkan pemilu berlangsung aman dan lancar maka selesailah ajang pemilu tersebut, meskipun pada kenyataannya 80% masyarakat tidak ikut berpatisipasi.

Seharusnya sebagai penyelenggara, komisioner KPU tidak perlu menyalahkan bahkan memberi cap masyarakat yang tidak memilih sebagai apatis dan tidak mau tahu. Masyarakat juga memahami kejadian ini bukan karena tidak becusnya KPU, seluruh elemen masyarakat seperti pejabat negara, para kandidat dan partai politik bertanggung jawab atas rendahnya partisipasi pemilih pada Pilkada Kota Medan ini. Komisioner KPU Kota Medan cukup mengakui bahwa Pilkada Kota Medan kali ini memang tidak menarik.

Pemilihan Walikota Medan Sejak Pilkada Langsung

Pemilihan langsung walikota Medan pertama kali digelar tahun 2005 yang dimenangkan oleh pasangan Abdillah-Ramli. Di tahun ketiga kepemimpinan mereka, kedua pemimpin kota Medan ini tersangkut kasus korupsi dana APBD. Warga kota Medan menyaksikan kejadian yang memalukan ini, kedua pemimpin mereka masuk penjara akibat korupsi. Kota Medan kemudian dipimpin oleh Sekda Afifudin Lubis,  lalu karena beliau mencapai masa pensiun PNS maka Rahudman Harahap menggantikannya sebagai PLT. Walikota Medan.

Pada Pilkada Kota Medan tahun 2010, Rahudman Harahap maju sebagai calon Walikota Medan bersama T. Dzulmi Eldin sebagai calon Wakil Walikota-nya. Pilkada tahun 2010 ini menghadirkan 10 pasangan calon walikota dan wakil walikota dan merupakan pilkada paling banyak kandidatnya. Pilkada tersebut berlangsung seru sampai harus dilaksanakan putaran kedua dan akhirnya dimenangkan oleh pasangan Rahudman Harahap dan T. Dzulmi Eldin. Namun seperti mengulangi kesalahan yang sama, walikota Medan Rahudman Harahap kembali terjegal kasus korupsi yang menyebabkan dia harus lengser dan digantikan oleh wakilnya T. Dzulmi Eldin.

Dua tahun melanjutkan sisa periode jabatan walikota 2010-2015 yang ditinggalkan Rahudman, T. Dzulmi Eldin kembali mencalonkan diri sebagai Walikota Medan pada Pilkada serentak tahun 2015 ini. Sejak publikasi kesiapannya maju menjadi calon walikota Medan, Dzulmi Eldin diyakini sebagai calon terkuat yang akan memenangi Pilkada. Hal ini kemudian membuat banyak partai politik bermain aman dengan bergabung dalam koalisi  mengusung T. Dzulmi Eldin menjadi calon Walikota Medan. Pendapat bahwa T. Dzulmi Eldin adalah calon kuat pemenang Pilkada bukanlah apriori, sebagai petahana yang memiliki keuntungan tersendiri dan merupakan warga Medan asli, T. Dzulmi Eldin lebih dulu familiar dan populer dibandingkan pesaingnya yang muncul belakangan dari tokoh nasional Ramadhan Pohan.

Gagalnya fungsi representasi Parpol

Walaupun  memiliki potensi yang kuat untuk memenangkan Pilkada, namun ditengah-tengah warga kota Medan telah lahir pesimisme tersendiri dengan pengalaman dua pilkada terakhir. Banyak terdengar selentingan bahwa ketika T. Dzulmi Eldin menang menjadi walikota, maka beliau akan menyusul pendahulunya Rahudman Harahap ke penjara juga.

Partai Politik yang seharusnya dapat meng-agregasi kepentingan konstituennya dan menghadirkan tokoh alternatif untuk menjadi pemimpin, malah berbondong-bondong mencalonkan petahana yang diyakini akan menang dengan mudah. Bermain aman seperti ini memang menguntungkan partai-partai pendukung, selain hemat biaya juga hemat tenaga. Namun ini adalah awal kegagalan partai politik menterjemahkan keinginan rakyat yang butuh pemimpin baru, bukan hanya sekedar ingin memenangkan pertarungan pilkada.

Persentase golput yang mencapai 70-80% adalah bukti bahwa partai-partai yang mendukung calon tersebut tidak memiliki ikatan apa-apa dengan sebagian besar calon pemilih. Jumlah golput yang besar juga mengindikasikan partai-partai tersebut hanya menumpang nama tanpa menjalankan mesin partai untuk menggerakkan konstituennya menggunakan hak pilih. Bayangkan apa gunanya 8 partai politik mendukung T. Dzulmi Eldin (PDIP, Golkar, PAN, NasDem, PBB, PKPI, PKS, PPP) kalau pada kenyataannya saat pemilu partisipasi hanya 20% saja dari daftar pemilih tetap? Inilah kegagalan Partai Politik merepresentasikan keinginan rakyatnya.

Kita tidak perlu menunjuk satu pihak untuk disalahkan jika pemilu kota Medan yang telah berlangsung 9 Desember kemarin sepi dari pemilih. Setiap pemangku kepentingan yang terlibat harus melakukan evalusi di internal masing-masing. Penyelenggara tidak usah mencari alasan, pasangan calon yang kalah juga tidak perlu menyalahkan penyelenggara karena anggapan kurangnya sosialisasi – karena sosialisasi juga dapat dilakukan oleh Tim dan Partai pasangan calon.

Begitupun dengan pasangan Eldin-Akhyar, tidak usah terlalu bangga dengan kemenangan sekitar 72% dari suara pemilih yang 20%, karena artinya mayoritas warga Medan tidak perduli anda menang atau tidak. Begitupun ucapan selamat tetap layak disampaikan kepada Walikota dan Wakil Walikota terpilih. Kedepan adalah tugas anda membuktikan pada warga Medan anda memang layak memimpin kota ini 5 tahun lagi dan menepis pesimisme warga Medan terhadap perbaikan melalui Pilkada.

*diterbitkan di Koran Sindo Sumut, Headline Desember 2015

Surat Terbuka Untuk Ustadz Arifin Ilham

Kajian Timur Tengah

Yang saya hormati, Ustadz Arifin Ilham,

Assalamualaikum ww. Perkenalkan, saya Dina Y. Sulaeman, seorang ibu rumah tangga biasa, yang senang belajar dan menulis. Kecintaan saya untuk menuntut ilmu mendorong saya untuk kuliah lagi di program doktor Hubungan Internasional; sama sekali tak ada karir yang menuntut saya untuk itu. Tulisan-tulisan saya selama ini, kelihatannya cukup banyak diapresiasi orang; dalam arti, bukan tulisan ngawur. Bahkan ada tulisan saya yang sempat dimuat di majalah Az-Zikra yang Antum terbitkan, Ustadz.

Hanya saja, sejak saya aktif memberikan penjelasan tentang bagaimana sebenarnya konflik Suriah, saya tiba-tiba dimusuhi oleh kelompok-kelompok radikal pro-jihad Suriah. Dan tiba-tiba saja, seorang ibu rumah tangga seperti saya mendapat ‘kehormatan’ dinobatkan jadi “Tokoh Syiah Indonesia” oleh media-media pro-jihad Suriah, yang pemiliknya adalah teman-teman Antum sendiri, Ustadz. Meskipun isi artikel berjudul Tokoh Syiah itu fitnah, tapi setidaknya tiba-tiba saja ada gelar ‘tokoh’ dilekatkan kepada saya. Siapa tahu gelar ini (meskipun ngawur), membuat saya dianggap…

Lihat pos aslinya 1.469 kata lagi

Potongan-potongan surat yang tersisa (2)

Waalaikumsalam dynda.

Masa sih dynda kagok ngetik di Word? Emang selama ini buat skripsi pake apaan? Hehehe..

Yup..ternyata dynda masih ingat tentang isi suratnya, well..pembahasan di surat itu memerlukan sedikit referensi untuk membahasnya, panjang surat dynda nto aja 4 lembar.

Balasan ini sebenarnya hanya untuk member jeda dari surat dynda barusan dengan surat balasan sebenarnya nanti yang bakal abg kirim kira2 minggu depan.

Kenapa minggu depan?

Karena abg mau membalas surat tersebut dengan sepenuh hati (ceile…!) hehehe..beberapa pertanyaan di situ perlu dijawab secara serius dan tidak bisa dijawab sepintas lalu, abg juga perlu mencari referensi untuk menjawabnya. Maka itu mudah-mudahan minggu depan sudah agak longgar agenda, karena minggu ini abg harus disibukkan dengan beberapa hal yang tidak berkaitan satu sama lain. Kamis ne malah mw ke Jakarta.

So jangan kecewa dulu ya klo kita tunda pembahasannya….

Btw surat ini ga usah dibalas..tunggu aja surat balasan dari abg selanjutnya..

Thank you..Terima kasih..Arigato..Mbujur…Mauli Ate..

Medan, 31 Agustus 2010

Foo


Assalamualaikum Dynda

Rasanya senang sekali bisa kembali menulis surat lagi.., kadang abg merasa beruntung memiliki teman untuk saling berbalas surat, menulis surat adalah sebuah aktifitas kreatif yang sedikit banyak mencegah otak kita menjadi malas berpikir dan menciut. Sayangnya aktifitas ini sering terkalahkan dengan kesibukan yang memang tidak bisa dihindarkan atau disingkirkan, tapi percayalah abg selalu mencari waktu untuk dapat menulis, menulis surat atau apapun, karena menulis adalah membuat sejarah, sejarah lahir karena tulisan lahir.

          Abg kira pembahasan mengenai Schopenhauer dan Dadaisme tidak lagi kita bahas disini, beberapa surat terakhir kita sudah membahas tentang itu dan belum ada lagi yang perlu didiskusikan tentang hal itu disini, jadi abg pikir kita langsung membahas tentang dua hal yang menjadi ganjalan di pikiranmu beberapa waktu lalu seperti yang tertulis disurat, tapi abg tidak tahu apakah sekarang masih seperti itu atau tidak, atau bahkan dynda sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tapi mari kita asumsikan saja pertanyaan tersebut masih menjadi ganjalan di benak dyn sehingga abg masih memiliki alasan untuk menulis surat ini.

Diskusi kalian di TST dengan Alief dan Niko cukup menarik, dan diskusi dengan tema seperti itu pastinya sudah banyak diperbincangkan orang-orang Indonesia yang cukup kritisnya melihat anehnya sistem keuangan di dunia. Aneh bukan melihat beberapa mata uang nilai-nya lebih rendah dibanding beberapa mata uang lain, apa yang mendasari semua itu? kenapa tidak bisa rupiah lebih mahal daripada dolar amerika? atau kenapa poundsterling lebih tinggi nilainya tapi tidak berpengaruh besar seperti dolar amerika? Tentunya setiap keheranan dan kebingungan kita terjadi karena sedikitnya pengetahuan yang kita miliki terhadap hal yang kita herankan tersebut.

Pembahasan awal kalian tentang ‘Media Massa’ sedikit banyak sama dengan apa yang abg pahami, media massa merupakan ‘alat’, fungsi jurnalistik, fungsi kontrol kekuasaan atau apapun yang dyn pelajari di kuliah bisa saja tetap ada. Namun media massa sebagai alat bagi penguasa (baik penguasa negara, modal/kapitalisme/korporasi, kelompok elit) untuk membuat dan mengontrol opini publik adalah fungsi utama media massa tersebut berdiri. Abg pernah mendengar satu jargon yang mirip seperti yang dyn tulis, bunyinya seperti ini..” siapa yang menguasai Media, dia yang menguasai negara” atau “siapa yang ingin berkuasa, kuasailah Media” kira-kira seperti itulah bunyinya, namun kiranya pengertiannya sama saja.

Jargon tersebut mengindikasikan pentingnya Media bagi mereka yang ingin menjadi penguasa/pemimpin atau pun yang sudah berkuasa/memimpin di zaman sekarang yang disebut zaman teknologi informasi. Indikasi tersebut menjelaskan kondisi Peta Politik Pertelevisian Swasta kita yang dipegang segelintir Konglomerat dan dua diantaranya Aktif berpolitik, Aburizal Bakrie dengan TV one dan Surya Paloh dengan MetroTV-nya, MNC yang membawahi beberapa stasiun TV dipegang oleh konglomerat Hary Tanoesudibyo yang pasti memiliki pengaruh politik walaupun tidak aktif di panggung politik, bisakah dyn membantu memberi tahu siapa dibelakang media TV lainnya seperti Trans Corporation, dll.

Mengenai persolan mata uang, sebenarnya abg juga tidak terlalu menguasai masalah ini, dan abg tau pembahasan mengenai persoalan mata uang ini cukup rumit, tapi pertanyaan dyn seputar itu masih bisa abg jawab dengan jawaban sederhana. Mengapa Dolar Amerika begitu berkuasa terhadap mata uang lain? Di perdagangan Internasional, mata uang yang kuat/tinggi adalah mata uang yang banyak digunakan untuk bertransaksi dipasar internasional artinya banyak orang yang membutuhkan mata uang tersebut, prinsip ekonomi kapitalisme semakin banyak peminat/permintaan maka semakin tinggi nilai barang tersebut. Sampai disini apakah dyn bisa memahami?

Jadi bila kita sering menggunakan dolar(menukar rupiah dengan dolar) sama saja kita membeli Dolar, didunia ini memang Dolar Amerika lah yang paling banyak dibeli (ditukar dengan mata uang lain). Pertanyaan yang mengikutinya, kenapa USD banyak beredar atau dipakai di transaksi Internasional? Seperti kita ketahui Amerika adalah negara yang mengkonsumsi sebagian besar produksi dunia, juga memproduksi juga beberapa komoditi, mereka banyak melakukan transaksi dagang dengan semua negara diseluruh dunia, dengan begitu mata uang mereka menjadi alat tukar dan menjadi populer menjadi alat tukar internasional, hal itu mendogkrak tinggi nilai USD menjadi mata uang yang berpengaruh, disamping USD memang dipercaya stabil, stabil artinya nilainya tidak pernah naik maupun anjlok secara drastis dan peredarannya terjamin, tidak pernah kekurangan stok uang Dollar, oh iya mungkin disini perlu abg tambahkan pencetakan uang kertas tidak bisa seenak-nya saja dicetak untuk memenuhi kebutuhan pasar terhadap uang cetak/kertas, setiap uang kertas yang dicetak dijamin dengan emas senilai angka nominal yang tertera di uang kertas tersebut, itulah jawaban atas pertanyaan waktu dulu kita kecil saat terjadi krisis moneter, kenapa pemerintah tidak mencetak uang banyak-banyak saja untuk menjamin tersedianya uang? Ya karena pemerintah saat itu tidak sanggup menjamin uang yang dicetak.

Begitulah kira-kira penjelasan mengenai masalah mata uang itu dyn, alasan-alasan seperti diatas membuat USD begitu berpengaruh, dan pemerintah Amerika memang bermaksud menjadikan USD sebagai mata uang terkuat didunia dan mereka melakukan apa saja yang bisa membuat hal itu terjadi, kekuatan itu mendapat tantangan dari uni eropa yang mengeluarkan mata uang Euro, setiap transaksi lokal dan internasional di negara Uni eropa memakai mata uang Euro untuk meredam kekuatan Dolar amerika, dan Euro pun kian berhasil menandingi Dolar tersebut. Banyak negara yang tidak menyenangi AS menolak menggunakan USD dan menggunakan Euro dalam transaksi internasionalnya, karena mereka paham menggunakan USD berarti memperkuat Amerika serikat, bagaimana dengan dyn?

Oke, cukup dengan mata uang yang melelahkan itu, kita beranjak ke Pembahasan Kedua di surat dyn, ada yang pengen abg bahas tentang film-film dan kenapa film barat yang mendominasi wacana perfilm-an kita, namun abg pikir kita dapat membahasnya di surat berikutnya, karena pertanyaan dyn dsini justru tentang filosofi kematian, dan kematian dsini adalah kematian dalam sebuah cerita film atau novel. You’ve been ask my opinion, oke I will tell u what do I think about it. Konteks jawaban ini adalah tentang kematian seorang tokoh utama dalam sebuah cerita. Dyn pikir begitu banyak film yang menceritakan kematian tokoh utama di setiap ending-nya dan menyimpulkan kamatian adalah wacana menarik disebuah film.

Coba kita lihat di beberapa film yang dyn tulis disurat seperti Troy, Gladiator, Braveheart, Van helsing, 300 adalah berasal dari buku sejarah maupun cerita legenda kepahlawanan, jadi film tersebut merupakan interpretasi terhadap suatu karya tulis yang sudah ada terebih dahulu, abg kira V for Vendetta juga berasal dari sebuah novel fiksi. Apa yang mau abg katakan adalah di semua film yang dyn tulis genre nya adalah film kepahlawanan, baik cerita pahlawan kolosal maupun modern seperti Armageddon. Kita berbicara tentang psikologi disini, seorang sutradara pasti sudah merancang cerita yang mampu membawa psikologi penonton ke arah yang ia mau, dan sekarang kita berbicara film kepahlawanan. Cerita Troy, Gladiator, braveheart, 300 mengapa bisa menjadi cerita kepahlawanan yang heroik dan terkenal sampai saat ini menurut dyn kenapa??? Ya karena pahlawannya tersebut mati di saat puncak kejayaannya, mati disaat pertarungan atau disaat ia berjuang. Kepahlawanan seorang tokoh akan melegenda apabila ia tewas disaat ia berjuang, tewas di saat ia masih berjaya, tewas di medan pertempuran, tewas ketika masih muda dan memimpin, bukan mati karena sakit, karena tua dan mati di tempat tidur walaupun ia memiliki jasa saat ia muda.

Seorang yang paham psikologi massa pasti mengetahui hal ini, hal ini sudah ada dan diketahui orang sejak lama, itulah yang menjelaskan misalnya kenapa pemimpin-pemimpin pemberontakan tidak dibunuh saja untuk meredakan pemberontakan? Melainkan dibuang/diasingkan ketempat terpencil atau luar negeri seperti apa yang terjadi pada Sukarno-Hatta yang diasingkan Belanda atau seperti Hasan Tiro yang dibiarkan lari keluar negeri, karena pihak lawan mengetahui membunuh tokoh seperti itu hanya akan menjadikan mereka pahlawan sepanjang masa dan akan meningkatkan perlawanan.

Pada film dan cerita kepahlawan kontemporer hal seperti itu diadaptasi untuk menciptakan sebuah karakter kepahlawanan yang kuat dan utuh dan mampu menjadi acuan terkini pahlawan kontemporer seperti yang ditawarkan V for Vendetta dan Armageddon. Jadi kematian tokoh utama memang disengaja (dikorbankan/ditumbalkan), bukan hanya untuk melengkapi skenario film dan menciptakan efek dramatis pada penonton, tapi juga untuk membuat pahlawan tersebut lebih heroik dan melegenda.

  Well..cukup panjang juga pembahasan surat kali ini, semoga dapat membuat dynda menjadi lebih bertanya-tanya lagi. Karena fenomena disekitar kita memang tidak akan habis-habisnya untuk dieksplorasi, semakin dalam kita gali semakin kita sadari jauhnya kita dari akhir penggalian.

 Wassalamualaikum..

 Selamat Idul Fitri 1431 H

Mohon maaf lahir dan bathin                    

Medan, 13 September 2010

Foo

potongan-potongan surat yang tersisa (1)

Mukaddimah

Pada saat saya menulis intro, saya sudah sampaikan keinginan untuk mendokumentasikan juga surat-surat saya disini. Walaupun ini adalah antisipasi yang sedikit terlambat, karena banyak surat-surat yang saya tulis ditahun-tahun sebelumnya tidak dapat ditemukan lagi di hardisk komputer ataupun flashdisk. Namun beberapa potong surat yang ada masih cukup berharga untuk diabadikan dan dipublish di blog ini.

Sudah tentu surat-surat ini bukanlah surat cinta dengan kekasih saya, – klo yg itu mungkin tidak akan saya publish – surat-surat ini adalah alat komunikasi untuk diskusi saya dengan salah seorang junior dikampus, kami berkorespondensi untuk mengeksplor pengetahuan masing-masing, kira-kira begitulah tujuan kami memulai diskusi kami melalui surat-menyurat.

apa yang akan saya publish disini sebenarnya adalah empat surat terakhir dari periode kedua kami berkorespondensi, periode pertama adalah ketika saya sendiri masih kuliah S1. Sedangkan periode pertama dan kedua kira-kira berselang hampir satu tahun lamanya setelah saya tamat. Semoga surat-surat dari periode pertama bisa saya temukan lagi agar segera saya terbitkan juga di blog ini. Oh ya mungkin kalian bertanya-tanya, apakah saya mengetik ulang naskah surat-surat ini di blog? jawabnya tidak. Kebiasaan saya adalah walaupun berkorespondensi dengan surat analog, tapi saya mengetik surat saya di laptop atau PC, bukan ditulis dengan tangan (karena tulisan tangan saya terlalu indah hahahaha). Maka dari itu saya memiliki soft-file surat-surat tersebut di hardisk atau flashdisk saya.

sebagai catatan, nama-nama yang terdapat didalam surat dan dengan siapa saya berkorespondensi telah saya samarkan. Tindakan itu bukan untuk menjaga privasi karena surat ini sejak awal tidak pernah dibuat untuk di publish, tetapi semata-mata untuk menciptakan kesan fiktif-dramatis atas isi surat-surat tersebut bwahahaha :p

Mengenai isi surat tidak ada yang akan dirubah, paling hanya membenarkan ejaan dan merubah nama-nama yang ada. Pemikiran yang tertulis juga merupakan hasil dari tingkat intelektual saat itu dan sesuai dengan konteks pada tahun surat itu dibuat. Jadi kemungkinan besar beberapa pendapat saya dalam surat tersebut tidak relevan lagi bahkan bertentangan dengan pendapat saya saat ini. Well.. semoga surat imut-imut ini bisa menghibur siapa saja yang membacanya dan mudah-mudahan menginspirasi dengan cara-cara yang tak terduga.

letters quote


Minggu 29 Maret 2010
Assalamualaikum Dynda..

kabar selalu baik disini..seperti yang selalu diharapkan…
owh ya, sebenarnya surat ini sudah abg tulis sejak hari sabtu kemaren, sudah separuh halaman membahas dadaisme, tapi file surat yang abg ketik di komputer kantor kemren nto ga bisa dibuka dikomputer abg drumah. Jadinya abg ngetik ulang lagi deh.., mudah-mudahan ga banyak berubah dari apa yang abg tulis sebelumnya.

Memang sudah lama ya kita ga saling berbalas surat..abg aja ga bisa ngingat bulan berapa surat terakhir dari dynda, mau nengok ke kotak penyimpanan surat gak mood pulak..hehehe..omong-omong dah banyak juga koleksi surat abg..kyknya ada puluhan juga tuh…

kemaren waktu dynda nge-sms nanya abg dimana, kirain mw ngasi surat..eh ternyata suratnya blom lagi ditulis ya? But it’s ok…abg hargain usaha mu menulis dalam kesempatan yang sempit seperti itu. lagi pula kamu dapat pengalaman baru menulis selain diatas meja kayu jati drumah.

Ada sedikit yang harus diluruskan mengenai dadaisme. Dadaisme merupakan sebuah gerakan seni dan budaya. Sebuah aliran gerakan pemberontakan diantara seniman dan penulis juga budayawan. Mereka menolak bentuk pemikiran bahwa seni itu adalah sesuatu yang tinggi, mahal dan serius, rumit dan eksklusif. Kaum dadais membenci frame berpikir bahwa seni itu tinggi karena  seni semacam itu adalah milik kaum menengah ke atas yang menurut mereka memiliki estetika semu.

Dadaisme yang lahir di Zurich, Swiss pada masa perang dunia pertama merupakan antitesis dari bentuk seni pada waktu itu, Dadaisme menolak dan anti perang.  Kegiatan gerakan ini antara lain pertemuan umum, demonstrasi dan publikasi jurnal seni/sastra. Seni, politik, dan budaya menjadi topik utama dalam publikasi mereka. Gerakan ini mengilhami kemunculan gerakan-gerakan sesudahnya: Avant-garde, gerakan musik kota, serta kelompok lain seperti Surrealisme, Nouveau Réalisme, Pop Art dan Fluxus. Gerakan ini meliputi seni visual, sastra (puisi, pertunjukan seni, teori seni), teater dan desain grafik. Jadi pada masanya dadaisme merupakan gerakan reformasi dari dunia seni yang menawarkan ide-ide baru, bahan-bahan baru, tujuan-tujuan baru dan orang-orang baru. Dadaisme tidak memiliki karakteristik/kesatuan bentuk seperti yang dimiliki oleh gerakan-gerakan lainnya. Dadaisme seringkali diartikan seperti mengeluarkan ide-ide celaan dan kemarahan besar lalu memasukkannya ke dalam seni, jadi dia sangat nyata.

Kalau kemaren abg bilang dadaisme itu sebuah aliran filsafat, itu karena waktu perkenalan dengan wacana dadaisme ini dengan bg Jacob pas zaman diskusi dulu abg ga mendalami kali tentang dadaisme. Abg  mengklasifikasikannya termasuk kedalam aliran2 baru filsafat modern seperti eksistensialisme. Ternyata ia falsafah gerakan pemberontakan budaya. Eratnya kaitan filsafat dengan sastra, budaya, seni dan politik kadang membuat bingung namun mengasikkan. Orang yang punya pakem tertentu dalam filsafat tentu berpengaruh terhadap karya seni yang ia ciptakan dan pandangan politiknya…itu maksud saya.

Mengenai schopenhauer juga abg sedikit sekali tau tentangnya..kami yang pasti ga saling kenal apa lagi pernah ketemu sebelumnya. (garing ga dyn? Hehehe)
dynda bilang dyn tertarik sama schopenhauer, berarti kamu sedikit banyak telah tahu ttg dia dan pemikirannya bukan?? apalagi nama dyn di FB pake nama dia.
sedikit pengetahuan yang abg baca dari sebuah artikel..yang menjadi karakteristik schopenhauer ia  adalah seorang pesimistik atheis, – brusan di sms dyn blg dia salah satu yg menginspirasi dynda  –
kyknya abg makin ragu nih mw nulis..dynda seharusnya yg berbagi cerita ttg schopenhauer ke abg. Tapi daripada yg abg baca td ga dtulis ga enak jg rasanya.., abg ada memperhatikan ia sangat berseberangan dengan Hegel (yang diyakini sebagai filsuf besar terakhir), karena hegel pemikirannya sangat optimis ttg kehidupan sedangkan ia pesimis. Karena itulah ia tertarik pada Kant, walaupun Kant juga akhirnya byk dikritik olehnya. Karena gelar filsuf tidak akan diberikan kepada orang yang hanya meneruskan pemikiran filsuf sebelumnya, penyandangan gelar filsuf sangat terkait erat dengan originalitas dan kreativitas berpikir, maka schopenhauer mengatakan bahwa pemikirannya adalah koreksi dan penyempurnaan pemikiran Kant.
Schopenhauer juga dekat dengan seni, karena dia mnegatakan “Filsafat telah sejak lama menjalani proses pencariannya secara sia-sia karena ia memang lebih cendrung mencari dengan cara sains daripada dengan cara seni.”
Pengalaman manusia tidak bisa diartikulasikan dalam bahasa universal yang berbentuk konsep-konsep. Namun, pengalaman bisa diartikulasikan dalam karya-karya seni(lihat ttg dadasime diatas-keterkaitan filsafat dan seni). Schopenhauer membagi seni2 ini menjadi arsitektur, lukisan, seni pahat, dan sastra puisi juga drama teater.
Schopenhauer sangat kritis terhadap hidup dan pesimistik, ia berjuang kuat untuk mengalahkan hegel yang pada saat yang sama begitu populer dan lebih banyak disukai mahasiswa pemikirannya. Ia keluar dari universitas dan terus menulis untuk membuktikan bahwa ia tidak kalah besar dari hegel, membuktikan ia benar dan hegel salah. Dan ia berhasil, setelah kematiannya buku dan pemikirannya menjadi inspirasi filsuf-filsuf besar sekaliber Nietsche dan Karl Popper.

Demikian dulu untuk surat kali ini..mungkin ada beberapa hal yg lupa abg tuangkan dalam tulisan ini karena sempat terputus dari tulisan awal yg kemaren. Abg harap dynda memberikan feedback mengenai dua pembahasan kita ini, karena dyn bilang memang harus begitu.., ok. Udah dulu ya…dah ngantuk kali ini hahaha…..

wassalamualaikum
from my own paradise

foo        


Medan, 24 Agustus 2010

Assalamualaikum Dynda

abg ga tw ne mau mulai dari mana pembahasan surat ini, karena memang udah lama ya kita sejenak berhenti surat-suratan…,

beberapa kali sebelum surat balasan ini kita ada berjumpa, ber-smsan, dyn curhat masalah asmaranya..hehehe…bahkan surat terakhir dyn mungkin blum seminar ya? Tapi sekarang udah sarjana…udah diwisuda lagi. Congratulation for you..

coba abg liat dulu ya surat terakhir dari kamu…..
emmm….let me see…

by the way..dynda masih ingat ga surat dyn terakhir membahas apa??

dengan cara mengirim surat melalui email ini abg harap balas-balasan suratnya bisa lebih cepat. Pada surat kali ini belum ada jawaban untuk  suratmu sebelumnya, abg mau pastikan terlebih dahulu apakah kamu masih ingat pembahasan surat terakhir…atau kita mulai membahas topik baru..

foo